Lalu ada pula yang menganggap ada risiko mengintai dari pembedahan otak dengan kemungkinan pasien mengalami masalah organ lain seperti tiba-tiba lumpuh, kebutaan atau tak bisa bicara. Belum lagi bekas jahitan yang melintang di kepala mengganggu penampilan.
Tapi semua itu adalah kisah masa lalu. Perkembangan teknologi kedokteran memungkinkan para dokter masa kini untuk melakukan pembedahan dengan sayatan yang sangat kecil. “Kami menyebutnya sebagai key hole surgery,” kata dr. M. Sofyanto, Sp.BS dari Brain and Spine Center yang berpusat di Surabaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uniknya selama pembedahan, dokter bisa tetap berkomunikasi dengan keluarga melalui live surgery sehingga keluarga tahu tindakan apa saja yang akan dilakukan dokter.
“Misalnya untuk kasus tumor otak ini, kami hanya membuat sayatan kecil saja. Tulang di bor tapi dengan alat yang kecil saja. Partikel tulang ini disimpan dalam sediaan khusus karena nantinya akan dikembalikan lagi,” kata dr. Sofyanto menjelaskan.
Lalu setelah berhasil mencapai tumor, pengangkatan dilakukan juga dengan alat tanpa sedikitpun ada tetesan darah, karena kehati-hatian menghindari pembuluh darah. Kemudian otak ditutup kembali dengan partikel tulang yang masih hidup, baru kemudian kulit kepala di jahit kembali. Ada kalanya dijahitpun cukup dengan semacam lem saja.
“Pada beberapa jenis tumor yang tumbuh di bagian depan otak, pembedahan dilakukan dari area alis mata atau bahkan dari hidung jika memungkinkan, sehingga secara kosmetik juga lebih bagus,” kata dr. Sofyanto.
(utw/utw)