Orang yang menjalani diet ketat selama kurang dari seminggu, dalam satu bulan, menunjukkan tanda-tanda lebih kecil untuk penuaan, diabetes, penyakit jantung, dan kanker, dibandingkan kelompok yang tidak berpuasa.
Efek baik ini akan terus berlangsung meskipun orang tersebut kembali ke pola makan normal. Penelitian sebelumnya menunjukkan, berpuasa jangka pendek, yang hanya mengonsumsi air saja, dapat meningkatkan kesehatan. Namun, ini tidak berlaku untuk orang tua dan orang yang kondisi tubuhnya lemah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Subjek lalu kembali ke diet normal mereka selama beberapa minggu berikutnya. Di bulan berikutnya, mereka mengulangi lima hari berpuasa, dan begitu seterusnya selama periode tiga bulan. Penelitian ini menemukan, kadar glukosa darah turun sepuluh persen selama berpuasa, tapi enam persen tetap lebih rendah secara keseluruhan. Bahan kimia IGF1, yang menyebabkan penuaan pada manusia, juga berkurang 24 persen.
Valter Longo, peneliti utama dari Universitas Southern California mengatakan, “Puasa yang ketat sulit dipatuhi oleh orang-orang, dan juga bisa berbahaya, jadi kami mengembangkan diet kompleks yang memicu efek sama di dalam tubuh.”
Diet ini harus mengandung sekitar 11 sampai 14 persen protein, 42 sampai 43 persen karbohidrat, dan 44 sampai 46 persen lemak. Untuk sisa 25 hari dalam sebulan, peserta kembali menjalani pola makan normal mereka.
Meskipun penelitian ini hanya melibatkan 19 subjek, hasil yang sama diungkapkan dalam penelitian pada tikus. Tikus menjalani diet selama empat hari per bulan. Para peneliti menemukan, sel-sel pada tikus, termasuk tulang, otot, otak, jantung, sel-sel kekebalan tubuh menunjukkan tanda-tanda regenerasi.
Tikus-tikus juga hidup lebih lama, menderita penyakit radang dan kanker lebih kecil, menunjukkan peningkatan memori, dan berkurangnya pengoropasan tulang.
(win/mer)