Budaya itu membuat orang heran. Sebab selama ini buaya identik dengan pria mata keranjang. Jika suka menggoda wanita, disebut buaya darat. Dengar saja lagu Lelaki Buaya Darat yang disenandungkan Ratu. Istilah itu bahkan ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ia diartikan ‘penjahat’ atau ‘penggemar perempuan’.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena dianggap hewan suci, maka buaya dimasukkan ke siklus-siklus kehidupan terpenting dalam masyarakat Betawi, seperti saat menikah.
“Kalau calon mertua dari pihak laki-laki enggak bawa roti buaya akan diusir, karena itu simbol kesetiaan,” kata Rizal menegaskan. Ia juga menyebut, makin keras dan makin besar roti buaya, maka semakin baik. Karena roti itu akan disimpan selamanya.
“Awalnya dipajang di pelaminan, lalu diletakkan di atas lemari pengantin,” ucap Rizal. Karena itu, budaya Betawi yang membiarkan roti buaya dibagi-bagi dan dimakan setelah upacara pernikahan juga salah kaprah. Itu sama saja menyimbolkan pernikahan sang pengantin bakal berantakan, tak setia seperti buaya.
Namun, roti buaya bukan hanya dijadikan simbol kesetiaan antara pria dan wanita. Sebutan buaya juga untuk mereka yang setia memperjuangkan pengentasan terhadap penderitaan masyarakat.
“Karena itu kalau ada yang memberontak demi masyarakat disebut Buaya Betawi, karena dia setia pada masyarakat Betawi,” ujar Rizal lagi.
(rsa/mer)