“Mitos yang juga sering beredar saat berpuasa adalah makan yang banyak saat sahur karena akan berpuasa, atau makan yang berlebihan saat berbuka untuk menggeser makan siang yang tidak dilakukan karena berpuasa,” ujar Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, dokter dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, dalam keterangan tertulis yang diterima CNN Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Makanan itu sendiri seberapa banyak kita konsumsi tetap akan habis di lambung selama 6 sampai 8 jam. Jadi tidak banyak pengaruh untuk membuat perut tetap kenyang,” ujar Ari menjelaskan.
Begitu pula saat berbuka puasa. “Makan pun tidak boleh berlebihan apalagi kita akan melaksanakan rangkaian ibadah lain, antara lain salat Tarawih,” ujarnya lagi.
Dijelaskan Ari, puasa sendiri sebenarnya memberikan kesempatan untuk mengurangi makan dan membuat orang yang menjalankannya mengurangi asupan kalori. Jika Anda dapat mengendalikan nafsu makan, berat badan pun bisa turun di akhir bulan Ramadan.
“Jadi kalau kita menggeser makan kita pada sahur dan berbuka, kita bisa tidak mendapatkan manfaat puasa yaitu mengendalikan makanan kita selama berpuasa,” ujarnya.
Sebenarnya berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Ari di RSCM, sebagian besar pasien-pasien yang berpuasa akan mendapat manfaat kesehatan, yaitu terjadi penurunan asupan kalori, selanjutnya akan terjadi pengurangan berat badan, serta terkontrolnya kadar kolesterol dan gula darah.
“Mungkin mereka ini termasuk termakan mitos kalau jumlah makan sahur dan buka akan lebih banyak dari biasanya karena makan sahur dan berbuka merupakan makan pagi dan malam yang ditambah dari makan siang.”
(mer)