Nilai tukar yen yang murah, visa yang lebih mudah, serta inisiatif lainnya telah memikat wisatawan asing untuk mengeluarkan anggaran di Jepang, dan melihat beberapa situs Warisan Dunia UNESCO di Negeri Sakura tersebut.
Dilansir dari laman news.com, pariwisata adalah salah satu di antara banyak industri di Jepang yang tertatih-tatih selama lebih dari 20 tahun pertumbuhan ekonomi yang lamban. Penduduk setempat mengencangkan ikat pinggang mereka, dan sebagian besar menjauhi Jepang karena takut dengan skandal harga pangan yang luar biasa tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ambisi mereka adalah meraup sekitar 20 juta wisatawan pada 2020, ketika Tokyo menjadi tuan rumah Olimpiade. Perdana Menteri Shinzo Abe telah mencanangkan slogan pariwisata 'Cool Japan' dan 'Omotenashi', yang merupakan filosofi keramahan Jepang.
Abe juga mengampanyekan merek nasional dengan memanfaatkan produk dan konsep yang dianggap memiliki keunikan Jepang, misalnya kartun anime dan masakan tradisional washoku.
“Dengan nilai yen terlemah dalam beberapa dekade terakhir, ini membawa keuntungan bagi kami saat ini,” kata Grant Lutwyche, seorang montir mobil dari Australia yang mengunjungi kawasan Candi Asakusa Tokyo dengan istrinya.
Ledakan wisatawan menawarkan peluang bisnis baru, tapi juga memberikan tantangan. Investasi di bidang infrastruktur tertinggal, dan banyak pekerja industri jasa tidak bisa berurusan dengan orang asing.
“Kami membutuhkan lebih banyak staf yang dapat berbicara bahasa asing, terutama China,” kata Noriko Fukazawa, direktur sebuah perusahaan kosmetik Jepang. Para karyawan mempelajari satu frase bahasa China dan satu frase bahasa Inggris satu hari. Frase hari Rabu adalah 'silahkan masukkan tas Anda di sini' dalam bahasa China.
Kunjungan turis China sangat lambat setelah bencana nuklir pada 2011 dan bangkitnya ketegangan antara Tokyo dan Beijing pada 2012.
(win/mer)