“Ada 20 juta orang pengguna gigi tiruan di Indonesia. Sepuluh juta di antaranya adalah pengguna gigi tiruan lepasan. Pengguna yang benar-benar sudah aware hanya sekitar 5 persen,” ujar Oral Health Marketing Manager GSK Consumer Health Indonesia Adisti Nurmala.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susi menambahkan, selain mengakibatkan bau mulut, tumbuhnya bakteri di gigi juga dapat menyebabkan timbulnya karang gigi serta radang pada tenggorokan. Untuk menjaga kebersihan gigi tiruan, ada beberapa cara yang Susi sarankan.
Pertama, bagi pengguna gigi tiruan lepasan atau yang tidak permanen, jangan melepas-pasang gigi tiruan tersebut. Menurut Susi, kebiasaan melepas-pasang gigi tiruan akan memperlambat adaptasi mulut dengan gigi tiruan yang dianggap benda asing.
Gigi tiruan, menurut Susi, hanya boleh dilepas saat hendak tidur di malam hari. Lalu gigi harus disimpan di gelas berisi air. Ini berguna untuk menjaga gigi tiruan agar tetap basah karena jika kering, bakteri akan berkembang biak di gigi tiruan tersebut.
Kedua, gigi tiruan harus dibersihkan secara berkala dengan benar. Cara yang disarankan Susi adalah mencopotnya, lalu merendamnya dalam baskom berisi air. Lalu gigi tiruan tersebut dicuci menggunakan sabun cair dan digosok perlahan. Hindari menggosok dengan sikat gigi karena bahan dasar gigi tiruan yang lunak bisa rusak.
Terakhir, sikat gigi. Susi mengungkapkan, perawatan gigi tiruan tak cukup hanya menjaga bersihnya gigi tiruan saja. Namun, juga harus memerhatikan kebersihan mulut dan gigi sang pengguna.
“Harus sikat gigi juga. Jadi jangan gigi tiruannya saja yang dibersihkan. Gigi aslinya juga harus dibersihkan,” Susi menjelaskan.
(mer)