Institut Teknologi Swiss di Zurich mengatakan, serat yang dihasilkan oleh kandidat profesor Philip Stossel dan rekannya tersebut, pada akhirnya bisa menyaingi wol merino, yang dianggap sebagai salah satu jenis wol domba paling berharga dan kerap digunakan untuk pakaian mewah.
Dilaporkan oleh NY Daily, menurut intitusi tersebut, sekitar 70 persen serat diperdagangkan secara global per tahun. Namun, hampir dua pertiganya terbuat dari produk-produk non-terbarukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kualitas benang bahkan bisa ditingkatkan dengan bahan tambahan.
“Stossel yakin bahwa dia kian dekat dengan tujuan utamanya, membuat serat biopolimer dari produk limbah,” ungkap universitas tersebut.
Namun, dia masih menghadapi hambatan yang sama, termasuk di antaranya adalah membuat serat tekstil berbasis gelatin yang lebih tahan air.
Mengamankan pendanaan untuk eksplorasi kemungkinan produk komersial skala besar merupakan langkah penting lain.
(win/mer)