Dengan menggunakan pemindaian otak, para peneliti menemukan bahwa sirkuit di otak yang berhubungan dengan 'imbalan' meningkat, dan sirkuit otak yang terkait pengendalian diri menurun pada peserta yang di bawah tekanan. Semakin tertekan seseorang, maka semakin kuat efeknya.
“Kami menemukan bahwa stres meningkatkan sinyal 'imbalan', dan demikian dapat meningkatkan keinginan mengidam sesuatu secara instan,” kata Silvia U. Maier di Universitas Zurich, yang menekankan bahwa penelitian ini ada hubungan dengan penelitian stres dan keputusan di sirkuit otak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia melanjutkan, “Anda bisa mengatakan, stres menyalakan panggilan pada sinyal rasa dan menolak sinyal yang berhubungan dengan tujuan kesehatan,” katanya.
Semua peserta ditempatkan pada sebuah alat pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI) yang mengukur aktivitas otak dengan memetakan perubahan aliran darah di otak.
Para peserta juga diminta menyelesaikan beberapa percobaan komputer berbasis keputusan selama tujuh menit. Selain langkah-langkah fMRI, para peneliti juga mengumpulkan sampel air liur laki-laki untuk mengukur hormon stres kortisol.
Sebagaimana dilaporkan dalam jurnal Neuron, para peneliti menemukan, lelaki yang mengalami stres lebih mungkin untuk memihak rasa daripada tujuan kesehatan dalam pilihan makanan mereka, dibandingkan dengan laki-laki yang tidak mengalami stres.
(win/mer)