"Bangga dan senang sekali, dari pinggiran bisa ke Singapura. Kami hanya masak sesuai kualitas kami saja. Ternyata orang pada suka," ujar Nuraini kepada CNN Indonesia saat ditemui di warungnya di Bandung, Kamis (6/8).
Cita rasa Kupat Tahu Gempol memang sudah masyhur di berbagai kalangan, mulai dari rakyat jelata hingga para pejabat, seperti Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel. "Terakhir itu Pak Gobel mau pergi ke mana, pengin makan Kupat Tahu Gempol. Minta kirim 50 porsi untuk dimakan di bandara," kata Nuraini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semuanya resep dari nenek saya, namanya Hajar Hasanah. Tahun 1965, buka warung kupat tahu, banyak yang suka. Dilanjutin sama ibu saya, namanya Mariah, tahun 1975," tutur Nuraini.
Wanita berusia 45 tahun ini lantas menguak sedikit rahasia untuk mendapatkan kelembutan ketupat yang sempurna. "Tahu dari Cibuntu, kalau ketupat itu pakai beras aron, ditumbuk sampai lembut, dibungkus daun pisang, dikukus delapan jam," tuturnya.
Untuk mendapatkan bumbu kacang yang halus dan meresap ke dalam tahu dan ketupat, Nuraini mengaku menggunakan kacang tanah asli. "Tidak pakai seperti selai buat roti seperti orang sekarang biasanya. Kacangnya digoreng dan digiling pakai alat giling kacang biasa, enggak dicampur kentang seperti lotek," ucap Nuraini.
Berkat konsistensi keluarga Nuraini, Kupat Tahu Gempol kini sudah dapat membuka cabang di beberapa tempat, seperti The Kiosk di Dago dan Bandung Trade Mall.
Pemilik Kupat Tahu Gempol Bandung (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir) |
Meskipun sudah menjejaki tempat mewah, bahkan terbang ke luar negeri, Nuraini tetap mempertahankan warung kecil di Jalan Gempol. Dengan gerobak sederhana ditambah satu meja bambu panjang dan kursi plastik untuk pengunjung, Nuraini bersama Yayah beserta beberapa karyawan bekerja membuat kupat tahu setiap harinya.
"Di sini tempat awal, harus tetap dijaga," kata Nuraini.
(mer)
Pemilik Kupat Tahu Gempol Bandung (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir)