Peneliti menilai kesiapan masuk taman kanak-kanak pada anak-anak berusia 4,9 tahun yang lahir dalam usia kandungan penuh, dan sekitar 950 bayi yang lahir sekitar tiga minggu lebih awal. Berdasarkan temuan penelitian tersebut, anak-anak yang lahir lebih awal, sebanyak 52 persennya lebih mungkin untuk tidak siap.
“Pada titik ini kami tidak bisa membedakan bayi mana yang nantinya lebih buruk (di sekolah), dan mungkin perlu peningkatan intervensi lebih jauh sebelum masuk sekolah. Kendati kami juga menemukan bahwa status sosial ekonomi punya peran besar, juga usia kehamilan,” kata Melissa Woythaler dari Rumah Sakit Massachusetts di Boston, seperti dilansir dari Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di minggu-minggu awal setelah kelahiran, bayi prematur seringkali mengalami kesulitan bernapas dan kesulitan mencerna makanan. Kelahiran lebih awal ini juga memiliki tantangan jangka panjang lain, misalnya gangguan penglihatan, pendengaran, keterampilan kognitif, serta masalah sosial dan perilaku.
Anak-anak yang lahir prematur memiliki nilai akhir yang secara signifikan lebih rendah di semua wilayah keterampilan, juga memiliki peluang penurunan berat badan lebih tinggi.
Anak-anak pada usia dua tahun yang penilaian kesehatan mentalnya kurang, atau menunjukkan keterlambatan perkembangan yang signifikan atau ringan, mereka lebih mungkin memiliki nilai kesiapan masuk taman kanak-kanak di bawah lima persen.
Anak dua tahun yang mendapatkan nilai kesehatan mental normal atau hanya penundaan ringan jarang mencetak nilai di bawah lima persen untuk tes kesiapan taman kanak-kanak.
Sekitar 92 persen bayi jangka penuh dan 89 persen bayi prematur atau lahir kurang bulan dengan penilaian mental yang baik mendapatkan nilai di atas lima persen untuk tes taman kanak-kanak.
(win/mer)