Dikutip dari Reuters, para ilmuwan juga menemukan, remaja yang memiliki kedekatan hubungan dengan militer lebih cenderung menjadi korban kekerasan fisik dan pelecehan.
“Kami percaya bahwa hal ini sebagian disebabkan karena stres berkelanjutan yang terkait dengan perang, penempatan, pergerakan yang sering, ditindas, dan terlibat dalam kelompok sebaya yang berisiko,” kata Kathrine Sullivan, peneliti dari komunitas sosial Universitas Southern California.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk penelitian tersebut, Sullivan dan timnya menganalisis data survei yang dikumpulkan pada 2013. Data tersebut berasal dari sekitar 690 ribu siswa di sekolah-sekolah negeri, dari kelas 7 sampai sebelas. Sekitar delapan persen anak-anak yang disurvei memiliki orang tua atau pengasuh dari militer.
Penelitian ini mengungkap, anak-anak militer dua kali lebih mungkin membawa senjata ke sekolah dan 81 persen lebih mungkin membawa pisau ke sekolah. Kemungkinan mereka diancam dengan senjata juga lebih tinggi.
Anak-anak yang punya hubungan dekat dengan militer juga melaporkan, mereka hidup dalam ketakutan akan dipukuli. Mereka juga mengungkap kerap diganggu dan diintimitasi di dunia maya. Gambaran penggunaan zat terlarang pun tak kalah buruk pada anak-anak militer. Sekitar 45 – 73 persen dari mereka lebih menghisap rokok, menegak alkohol, memakai ganja, serta penyalahgunaan obat resep.
Namun, para peneliti mengakui, salah satu kekurangan penelitian ini adalah tidak adanya detail pada status sosial ekonomi. Status sosial ekonomi diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kemiskinan, struktur keluarga, atau faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi respons jajak pendapat siswa-siswa tersebut.
(win/mer)