Pada beberapa abad terakhir, ada beberapa pandemi yang mengancam manusia, di antaranya adalah wabah flu Spanyol pada 1918 yang diklaim telah membunuh setidaknya 20 juta jiwa. Vaksin yang ada menargetkan bagian dari virus yang bermutasi terus-menerus, sehingga memaksa para ahli farmasi dan petugas kesehatan untuk meramu obat anti-flu baru setiap tahun.
Dalam dua penelitian, yang diterbitkan di jurnal Nature dan Science, para peneliti menguji vaksin baru tersebut pada tikus, musang, dan monyet yang dapat menduplikasi bagian dari virus dengan lebih stabil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sampai saat ini, mereka belum dapat menggunakan batang protein tersebut untuk memprovokasi reaksi kekebalan pada hewan laboratorium atau manusia. Yakni dengan cara menetralisir atau membiarkan tubuh menyerang dan menghancurkan sel yang terinfeksi.
Langkah berikutnya adalah mengimunisasi tikus dan musang, dan menyuntikkan hewan-hewan tersebut dengan virus flu burung H5N1. Virus ini memiliki tingkat angka kematian lebih dari 50 persen di antara orang-orang yang terserang, tetapi tidak mudah menular.
Para peneliti menemukan, tikus benar-benar terlindungi dari virus. Sebagian besar musang, spesies yang paling baik memprediksi keberhasilan vaksin influenza pada manusia, juga tidak jatuh sakit.
Studi lain yang dipimpin oleh Antonietta Impagliazzo dari Institut Crucell Vaccine di Leiden, Belanda, mengambil pendekatan yang sama. Yakni menciptakan vaksin stem HA yang terbukti efektif pada tikus.
Ilmuwan lain yang tidak terlibat dalam studi tersebut menggambarkan penemuan ini sebagai langkah besar untuk penemuan vaksin universal. Namun, mereka mengingatkan, masih banyak pekerjaan yang mungkin bisa dilakukan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya vaksin flu universal bisa diuji pada manusia.
(win/mer)