Seperti dilansir Reuters, tingkat kesehatan rata-rata meningkat secara global berkat keberhasilan melawan wabah infeksi, seperti HIV/AIDS dan malaria, serta penyakit kehamilan dan anak-anak.
Namun, keberhasilan tersebut tidak diiringi dengan harapan hidup sehat. Orang akan hidup lebih lama dengan penyakit dan disabilitas, menurut analisis yang telah dipublikasikan dalam jurnal The Lancet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka harapan hidup sehat ini dilihat dari kematian, dampak kondisi non fatal, dan penyakit kronis, seperti jantung dan lambung, serta diabetes. Hal tersebut mengurangi kualitas hidup, meningkatkan biaya, dan menghabiskan sumber daya.
Mayoritas dari 188 negara, perubahan harapan hidup sehat antara 1990 dan 2013 sebenarnya positif dan signifikan. Namun, di banyak tempat sekitar Belize, Botswana, dan Suriah, angka harapan hidup sehat pada 2013 tak jauh berbeda dengan 1990.
Pada beberapa negara lain, termasuk Afrika Selatan, Paraguay, dan Belarus, angka harapan hidup sehat bahkan merosot. Di Lesotho dan Swaziland, kelahiran 2013 diperkirakan hidup sepuluh tahun lebih tidak sehat ketimbang orang yang lahir dua dekade sebelumnya.
Penelitian ini juga menemukan perbedaan drastis antara negara dengan angka harapan hidup sehat tertinggi dan terendah.
Angka harapan hidup sehat orang Nicaragua dan Kamboja melejit sejak 1990 menjadi 14,7 dan 13,9. Namun, angka harapan hidup sehat di Botswana dan Belize justru merosot dua dan 1,3 tahun.
Pada 2013, Jepang menduduki posisi puncak angka harapan hidup sehat tertinggi, yaitu 73,4 tahun, sementara Lesotho menempati daftar terakhir dengan 42 tahun.
(mer)