Studi: Remaja Gothic Lebih Mudah Mengalami Depresi

Windratie, CNN Indonesia | Selasa, 01/09/2015 07:39 WIB
Studi: Remaja Gothic Lebih Mudah Mengalami Depresi Remaja yang dikenal sebagai Goth (Gothic), subkultur yang anggotanya kerap memakai pakaian dan dandanan hitam, memiliki risiko depresi tiga kali lebih tinggi. (Getty images/ AAAAA AAAAAAAA'AAA/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Remaja yang dikenal sebagai kaum Goth (Gothic), subkultur yang para anggotanya dikenal kerap memakai pakaian dan make-up serba hitam, memiliki risiko depresi tiga kali lebih tinggi daripada teman-teman mereka yang non-goth (bukan gothic), seperti diungkapkan oleh para peneliti.

Namun, mereka tak bisa memastikan, apakah anak-anak yang sebelumnya sudah mengarah pada depresi bergabung dengan subkelompok ini, atau sebaliknya, kelompok tersebut yang menyebabkan anak-anak tersebut menjadi depresi?

Diberitakan oleh laman NY Daily, pemimpin penelitian, Lucy Bowes, dari Universitas Oxford mengatakan, “Studi kami tidak menunjukkan bahwa menjadi gothic menyebabkan remaja menjadi depresi atau menyakiti dirinya. Namun, beberapa anak muda gothic lebih rentan mengembangkan kondisi ini.”


Dalam sebuah penelitian panjang terhadap lebih dari 2.300 remaja Inggris, Bowes dan timnya menemukan bahwa remaja 15 tahun, yang diketahui terikat sangat kuat dengan subkultur gothic, tiga kali lebih mungkin tertekan secara klinis pada usia 18 tahun dibandingkan dengan rekan-rekan non-gothic mereka.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Psychiatry tersebut, para peneliti mengatakan, remaja gothic juga lima kali lebih mungkin untuk menyakiti diri mereka secara fisik.

Pada usia 15 tahun, peserta studi ditanya sejauh mana mereka mengidentifikasi diri mereka dengan berbagai subkultur, di antaranya sporty, populer, penyendiri, dan bimbo (perempuan muda berotak kosong yang senang berdandan, tertarik pada laki-laki dan busana).

Tiga tahun kemudian mereka kembali dinilai untuk mengetahui gejala depresi dan tindakan menyakiti diri sendiri.

'Skaters' (orang yang gemar bermain skateboard) dan 'penyendiri' juga dilaporkan mengalami peningkatan risiko, kata para peneliti. “Orang-orang muda (gothic) yang mengidentifikasi diri mereka sebagai 'sporty' adalah yang paling mungkin mengalami depresi atau menyakiti diri pada usia 18 tahun.

Para peneliti mengatakan, mungkin 'pengaruh teman' dalam subkultur gothic bertanggungjawab atas adanya hubungan tersebut. Namun, bisa juga karena orang-orang yang tertarik dalam kelompok gothic sebelumnya sudah merupakan orang-orang depresi yang diasingkan secara sosial.

“Remaja yang rentan terhadap depresi atau dengan kecenderungan menyakiti diri dapat tertarik bergabung dengan subkultur gothic, yang dikenal sebagai kelompok yang merangkul individu yang terpinggirkan,” kata penulis penelitian Rebecca Pearson dari Universitas Bristol, Inggris.

Remaja-remaja gothic harus diamati dengan lebih teliti, kata para penulis, sehingga para anggotanya yang berisiko dapat diberikan dukungan psikologis.



(win/mer)


ARTIKEL TERKAIT