Kekerasan Seksual Wanita Kerap Terjadi pada Acara Festival

Windratie, CNN Indonesia | Jumat, 04/09/2015 21:31 WIB
Kekerasan Seksual Wanita Kerap Terjadi pada Acara Festival Lebih dari seperempat kekerasan seksual terjadi di acara-acara massal, contohnya festival, orientasi mahasiswa, dan perayaan liburan. (CNN Indonesia internet/ Dok. Exit Festival via Facebook)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perempuan yang mendapatkan serangan kekerasan seksual di acara-acara besar, misalnya festival dan acara-acara liburan, biasanya berusia dewasa muda, dalam keadaan mabuk, dan tidak mengenal penyerang mereka.

Berdasarkan sebuah penelitian di Kanada, lebih dari seperempat kasus kekerasan seksual terjadi di acara-acara massal, contohnya festival, orientasi mahasiswa, dan perayaan liburan. Upaya pencegahannya adalah fokus pada faktor-faktor risiko tertentu dalam kasus ini.

Kari Sampsel, direktur medis dari lembaga Sexual Assault and Partner Abuse Care Program (SAPACP) di Rumah Sakit Ottawa mengatakan, dia dan rekannya terinspirasi melakukan penelitian ini setelah melihat banyak perempuan yang mendapatkan perawatan medis setelah liburan dan waktu perayaan lain.


Penelitian yang dipublikasikan dalam Emergency Medicine Journal terebut menganalisis data kasus kekerasan seksual pada 2013 yang melibatkan perempuan di atas usia 16 yang datang ke SAPACP dalam waktu 30 hari setelah serangan.

Dikutip dari Reuters, di antara 204 kasus kekerasan seksual  yang diidentifikasi, sekitar 53 dari mereka (26 persen) terjadi pada saat pertemuan-pertemuan besar.

Serangan di acara-acara massal yang paling sering terjadi adalah pada saat hari libur, seperti Malam Tahun Baru, Halloween, dan Canada Day, serta selama masa orientasi mahasiswa baru di Universitas.

Kebanyakan serangan seksual pada acara massal terjadi baik di rumah seorang teman (25 persen) atau di tempat terbuka (23 persen).

Perempuan yang diserang pada pertemuan massa rata-rata berusia 25 tahun, dibandingkan dengan rata-rata usia 30 yang diserang dalam kondisi dan situasi lain. Perempuan yang diserang di acara-acara besar juga lebih cenderung mengonsumsi narkoba dan alkohol, dengan 90 persen melaporkan mengonsumsi beberapa zat adiktif.

Hampir dua per tiga dari perempuan pada pertemuan massa melaporkan kehilangan kesadaran selama serangan, dan 57 persen diduga mengonsumsi obat tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka.

Lebih dari separuh perempuan yang diserang di acara-acara besar tidak mengetahui penyerang mereka. Sementara, 60 persen perempuan yang diserang di lokasi lain tahu siapa yang menyerang mereka. 

Sampsel sendiri menjalankan program bernama Project Soundcheck yang mendorong intervensi penonton di festival musik dan acara lain. Di acara-acara kerumunan massa biasanya petugas keamanan berada di hanya di sekeliling massa.

Program yang dia jalankan melatih relawan untuk masuk ke dalam kerumunan dan mencari orang-orang yang berperilaku predator, dan mencari awal dari kekerasan seksual.

Sampsel menyarankan agar perempuan-perempuan yang menghadiri acara-acara besar datang bersama teman-teman, tetap bersama dengan teman, saling menjaga satu sama lain, dan tahu batasan konsumsi alkohol.

(win/mer)


ARTIKEL TERKAIT