"Nyeri akut adalah nyeri yang baru. Yang disebut akut atau kronis hanya bicara tentang rentang waktu," kata dokter spesialis anestesi Dwi Pantja saat ditemui di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (8/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Pantja mengatakan, nyeri kronis merupakan nyeri yang menetap dan tidak pernah benar-benar hilang. Nyeri kronis juga biasanya sudah mengganggu saraf sehingga saraf akan menjadi kebih sensitif dari sebelumnya.
Hal ini menyebabkan penanganan antara nyeri akut dan kronis berbeda. Untuk itu, jangan sampai salah kaprah tentang kedua perbedaan ini. Sebab, pengobatannya pun berbeda.
"Pengobatannya beda, kalau nyeri kronis mengubah yang sensitif, menjadi tidak sensitif lagi karena sudah ada kerusakan pada sarafnya," ujar Pantja.
Jadi, jangan sampai salah kaprah mengartikan nyeri akut dan nyeri kronis. Pengertian akut dan kronis tersebut juga berlaku untuk penyakit lainnya, seperti penyakit jantung akut dan penyakit jantung kronis.
"Apakah ada hubungan dengan tingkat keparahan? Tidak? Nyeri akut dan kronis nyeri levelnya keparahannya juga bisa sama," kata Pantja.
(utw/utw)