Namun, demi kesembuhan, banyak orang memodifikasi caranya meminum obat. Kalau biasanya obat harus dikonsumsi dengan air putih, akhirnya orang-orang yang tidak menyukai rasa obat menggantinya dengan minuman lain.
Ada yang minum obat menggunakan susu, ada juga yang minum obat dengan jus buah. Ada pula yang mengonsumsi minuman lainnya untuk menetralisir rasa obat yang sebelumnya diminum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Anda ingin mengonsumsi susu, lebih baik tunggu sekitar empat jam setelah mengonsumsi obat.
Berbeda dengan susu, soda yang dikonsumsi saat minum obat atau sesaat setelahnya malah bisa membuat obat tidak bisa hancur di lambung dan akhirnya tidak terserap dengan baik.
"Jangan gunakan basa yang kuat seperti soda karena bisa merusak kondisi asam. Soalnya banyak obat yang dibuat untuk hancur dalam kondisi asam," ujar Pantja.
Ia mengatakan pendamping minum obat terbaik adalah air putih karena sifatnya yang netral. Jadi, obat bisa bekerja secara maksimal.
Selain susu dan soda, ada juga beberapa minuman lainnya yang sebaiknya tidak dikonsumsi ketika Anda mengonsumsi obat maupun setelahnya.
Misalnya saja jus pomegranate. Dilansir dari Prevention, enzim yang terdapat dalam buah pome tidak bisa menghancurkan obat-obat yang dibuat untuk mengatasi tekanan darah. Ada juga jus anggur yang tidak bisa berinteraksi dengan 50 jenis obat, termasuk statin.
Minuman yang mengandung kafein seperti kopi, teh hijau, dan minuman berenergi juga bisa menimbulkan ancaman serius jika berinteraksi dengan obat tertentu. Hindari konsumsi kafein saat harus minum obat dengan kandungan efedrin (penekan nafsu makan), obat asma, dan amfetamin.
Kalium dalam minuman juga bisa berbahaya apabila dikonsumsi dengan beberapa obat jantung atau hipertensi.
(mer)