Arthritis adalah penyakit yang melemahkan dan amat berdampak pada partisipasi tenaga kerja. Entah itu, memaksa mereka pensiun dini karena sakit atau fisik terbatas, mengurangi jam kerja, atau mengubah ke pekerjaan yang dibayar lebih rendah, kata Emily Callender, peneliti di Universitas Sydney.
“Bagi mereka yang sudah pensiun, mungkin saja biaya pengobatan atau biaya mengakses bantuan mengharuskan mereka untuk mengurangi beberapa aset mereka,” kata Callender seperti dilansir dalam laman Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, pada 2009, 300 partisipan mengembangkan arthritis, setengah dari mereka adalah laki-laki. Selama penelitian, 18 persen dari peserta perempuan dan 16 persen dari peserta laki-laki mengalami kemiskinan yang dinilai dari pendapatan. Selain itu, proporsi kemiskinan bertambah seiring umur.
Perempuan juga lebih mungkin menderita kemiskinan yang cakupannya meliputi pendapatan, kesehatan, pencapaian pendidikan, atau 'kemiskinan multidimensi', berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Arthritis dan Rheumatology.
“Diketahui bahwa orang-orang yang memiliki pendapatan rendah lebih mungkin untuk mengembangkan arthritis. Namun, ini adalah studi pertama yang menunjukkan hubungan terbalik, bahwa arthritis juga menyebabkan kemiskinan pendapatan,” kata Callender.
Dia mengatakan, dibandingkan laki-laki, perempuan lebih mungkin mengidap arthritis kronis, yang membuat mereka lebih sulit bekerja.
(win/mer)