Hikayat Jalur Kereta Api Listrik di Indonesia

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Senin, 28/09/2015 14:10 WIB
Hikayat Jalur Kereta Api Listrik di Indonesia Sebenarnya pembangunan perkeretaapian di Indonesia sudah dimulai sejak 17 Juni 1864. Pembangunan tersebut diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) dari Desa Kemijen menuju Desa Tanggung sepanjang 26 kilometer. . (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tepat 70 tahun lalu, 28 September telah diperingati sebagai Hari Kereta Api Nasional. Kala itu, karyawan Kereta Api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari pihak Jepang yang menjajah Indonesia.

Sebenarnya pembangunan perkeretaapian di Indonesia sudah dimulai sejak 17 Juni 1864. Pembangunan tersebut diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) dari Desa Kemijen menuju Desa Tanggung sepanjang 26 kilometer.

Momentum pembangunan jalan kereta api pertama itu ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan rel kereta api di Desa Keminjen, Semarang, Jawa Tengah oleh Jenderal Hindia Belanda Baron Sloet van den Beele. Pada 10 Agustus 1867 ruas jalan ini pun mulai dibukawisa untuk angkutan umum.


Sejak saat itu pembangunan jalan kereta api mulai dilakukan besar-besaran di Jawa dan Sumatera. Ada juga ruas jalan yang dibangun di Sulawesi tepatnya dari Makassar ke Takalar. Selain itu, tahap pembangunan baru sampai studi saja.

Jika dihitung dari pembangunan pertama jalur kereta api, usia perkeretaapian di Indonesia sudah mencapai 151 tahun. Dunia perkeretaapian pun sudah semakin berkembang.

Kini, tidak ada lagi suasana kesemrawutan di stasiun dan juga di kereta yang dulu sempat dirasakan. Penumpang berjubelan, pedagang berseliweran, keamanan yang susah dikendalikan, saat ini semua jauh lebih baik.

Sistem tiket pun sudah bisa diakses secara online. Penumpang semakin tertib, kereta api juga semakin nyaman.

Kemajuan dunia perkeretaapian Indonesia juga terlihat dari perkembangan transportasi urban berbentuk kereta rel listrik (KRL) commuterline. Kendati baru populer, sejarah KRL juga sudah dimulai sejak lama.

Sejak tahun 1917, wacana elektrifikasi jalur kereta api sudah didengungkan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda Staats Spoorwegen (SS). Waktu itu, elektrifikasi jalur kereta api diprediksi akan menguntungkan secara ekonomi.

Dilansir dari situs resmi PT KAI Commuterline Jabodetabek (PT KCJ), elektrifikasi jalur kereta api pertama kali dilakukan dari Tanjung Priuk sampai dengan Meester Cornelis (Jatinegara) dimulai pada tahun 1923. Pembangunan ini selesai pada 24 Desember 1924.

Ada beberapa jenis lokomotif yang digunakan kala itu untuk melayani jalur kereta listrik tersebut. Pemerintah Hindia Belanda membeli Lokomotif Listrik seri 3000 buatan pabrik SLM (Swiss Locomotive & Machine works) –BBC (Brown Baverie Cie), Lokomotif Listrik seri 3100 buatan pabrik AEG (Allgemaine Electricitat Geselischaft) Jerman, Lokomotif  Listrik seri 3200 buatan pabrik Werkspoor Belanda, KRL (Kereta Rel Listrik) buatan pabrik Westinghouse, dan KRL buatan pabrik General Electric.

Sementara itu, elektrifikasi jalur KA yang mengelilingi kota Batavia (Jakarta) selesai pada 1 Mei 1927.  Setelah itu, elektrifikasi tahap selanjutnya pun dilakukan. Saatnya jalur kereta api rute Batavia (Jakarta Kota) – Buitenzorg (Bogor) juga dielektrifikasi dan mulai dioperasionalkan pada tahun 1930.

Bisa dibilang jalur tersebut merupakan titik awal kemajuan kereta rel listrik di Indonesia, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Jalur kereta listrik ini juga menandai terbentuknya sistem angkutan umum massal yang ramah lingkungan, yang merupakan salah satu sistem transportasi paling maju di Asia pada zamannya.

Sejak saat itu juga KRL menjadi andalah para komuter, terlebih yang tinggal di kota penyangga Jakarta untuk bepergian. Saat itu yang digunakan adalah lokomotif-lokomotif listrik.

Baru pada tahun 1976 pemerintah mulai mengganti lokomotif tersebut dengan KRL buatan Jepang. Dan pada tahun 2000 sistem pengoperasian commuter terpadu di Jabodetabek diterapkan. Ketika itu pemerintah Indonesia menerima hibah KRL sebanyak 72 unit. Dari jumlah tersebut, 50 unit gerbong langsung digunakan dan dioperasikan sebagai rangkaian-rangkaian KRL Pakuan yang melayani rute Jakarta – Bogor dan sebaliknya.

Sejak saat itu KRL pun terus mengalami pembaruan. Pada Juli 2011 KRL Pakuan dan KRL ekonomi lainnya mulai dihapuskan. Semuanya diganti dengan KRL yang seperti saat ini bisa Anda nikmati.

Tidak hanya pembaruan KRL, sistem layanan pun terus ditingkatkan. Sejak Juli 2013 juga diberlakukan e-ticketing untuk layanan KRL. Dan semua sistem itu masih berlaku sampai hari ini. Bahkan PT KCJ juga menggandeng pihak bank untuk mendukung sistem ini.

Jadwal KRL pun sudah semakin tapi. Semua pengguna layanan commuterline bisa mengaksesnya secara online. Meski terkadang keterlambatan kedatangan kereta masih saja terjadi. (win/win)