Sebab, berkat layanan inovasi mereka, pengembangan bisnis fesyen bisa dilakukan dengan lebih mudah.
Salah satu pelaku bisnis fesyen Diana Rikasari yang kecipratan dampak besar dari media sosial untuk merek fesyennya mengatakan pekerjaannya memasarkan produk menjadi lebih mudah dan murah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu belum ada sosial media, brand mau dikenal publik itu effortnya besar sekali. Atau harus meminjamkan bajunya, sampai menggelar fashion show walaupun hanya di garasi atau restoran dan mengundang media, itu juga biayanya tidak sedkit," kata Diana, kemarin.
Sementara saat ini, bantuan media sosial terhadap perkembangan fesyen juga besar. Hanya dengan satu akun media sosial, misalnya saja Instagram, Anda bisa menjual produk ke seluruh dunia. Cakupan pasarnya bisa lebih besar, bahkan sangat besar.
"Sekarang ada media sosial, bisa word of mouth (WOM). Apalagi kalau bajunya bagus dan banyak yang mention dan follow, atau menggunakan hashtag tertentu orang akan semakin mudah menemukan bisnis fesyen Anda dan membelinya.”
"Reach sangat besar. Ketika menggunakan tag tertentu, dari yang tidak dikenal menjadi kenal di dalam negeri bahkan di luar negeri. Makanya banyak merek fesyen yang baru diluncurkan," ujarnya.
Diana mengatakan, saat ini saja pembeli produknya terdiri dari 80 persen Indonesia dan 20 persen negara lainnya. Seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Atas keberhasilannya mengembangkan bisnis fesyen dengan menggunakan media sosial, Diana didaulat menjadi pembicara di ajang Digital Fashion Week 2015 di Singapura dalam acara Asia Fashion Future.
Di sana ia akan berbagi ilmu membangun bisnis fesyen di sosial media juga dampak positif dan negatifnya. Digital Fashion Week 2015 di Singapura akan berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November 2015. (utw/utw)