Dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiatri Suryo Dharmono mengatakan ada beberapa jenis gangguan cemas yang bisa dialami oleh manusia. Ada panik, fobia, dan obsesif kompulsif atau biasa dikenal dengan OCD.
Menurut Suryo, dari keempat gangguan cemas tersebut gangguan panik adalah yang paling sering diderita masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilihan Redaksi |
Beda dengan kepanikan biasa yang mempunyai stressor, seperti dipanggil bos, atau kondisi dan situasi nyata lainnya.
"Kalau panik tidak jelas dan tiba-tiba berdebar-debar, sampai perasaan mau pingsan berkali-kali dan mau akses UGD, itu gangguan panik," ujarnya.
Selain gangguan panik, ada juga gangguan lainnya yang sering menghinggapi, seperti fobia. Salah satunya adalah fobia sosial.
"Mereka yang fobia sosial berhadapan dengan situasi sosial. Biasa ketika berhadapan dengan situasi sosial dia berdebar, tidak bisa ngomong, cemas, dan panik berlebihan," ujar Suryo.
Sementara untuk obsesif kompulsif, kecemasan ditandai dengan perilaku yang berulang. Suryo menyontohkan, misalnya saja dengan mencuci tangan berulang-ulang ketika sehabis memegang sesuatu yang tidak disukai.
Gangguan cemas, lanjut Suryo, bisa menyerang orang dewasa muda yang berusia 18-25 tahun. Bahkan Suryo menambahkan anak-anak pun bisa mengalaminya.
Gangguan cemas ini bisa dipulihkan dan dan bisa diminimalisasi. Namun, ketika ada stressor atau pemicu, gangguan cemas bisa kambuh sewaktu-waktu. (utw/utw)