Selain itu, berdasarkan laporan yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Oncolgy itu, pasien juga tampak tidak mengalami penuruan kesejahteraan emosional.
“Sebagian besar pasien kanker kronis, yang mengatakan bahwa mereka ingin tahu tentang prognosis mereka, secara mengejutkan tampak tabah menerimanya,” kata penulis senior Holly G. Prigerso dari Weill Cornel Medical College di New York City.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Penyedia layanan kesehatan sering enggan untuk mengomunikasikan berita suram,” katanya seperti dilaporkan Reuters.
Dalam melakukan penelitian ini, para ilmuwan melibatkan sekitar 590 pasien yang mengidap kanker metastasis tingkat lanjut. Para pasien ini telah diobati dengan setidaknya satu putaran kemoterapi paliatif. Perawatan tersebut lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kenyamanan, daripada mengobati.
Para peneliti lalu bertanya kepada pasien, apakah ahli onkologi mereka pernah memberikan prognosis perkiraan harapan hidup. Pasien juga kemudian diminta memperkirakan harapan hidup mereka sendiri, menyelesaikan penilaian tentang tekanan emosional, apakah mendapat arahan kemajuan penyakit, dan apakah memiliki pilihan perawatan untuk akhir hidup mereka.
Setengah dari pasien bersedia memperkirakan harapan hidup mereka. Dan, orang-orang yang ingat pernah memiliki percakapan prognosis dengan dokter mereka memperkirakan harapan hidup yang dekat dengan kelangsungan hidup mereka yang sebenarnya, dibandingkan mereka yang tidak.
Lebih lanjut studi tersebut menemukan bahwa berbicara dengan dokter tentang harapan hidup tidak menyebabkan buruknya hubungan antara dokter dan pasien, atau menambah kesedihan yang lebih tinggi.
Prigerson mengatakan, hal ini mendorong pasien lebih realistis dalam memperkirakan harapan hidup mereka, lebih mungkin untuk menyelesaikan pengobatan, dan keinginan untuk mendapatkan perawatan yang nyaman.
“Tidak ada dampak emosional yang merusak hubungan mereka dengan onkologi mereka,” kata Prigerson.
(win/utw)