Kaum Muda Waspadai Katarak Akibat Paparan Sinar UV

Tri Wahyuni , CNN Indonesia | Sabtu, 10/10/2015 16:34 WIB
Kaum Muda Waspadai Katarak Akibat Paparan Sinar UV Ilustrasi mata (Detikcom Thinkstock/thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Katarak atau kekeruhan lensa mata masih menempati urutan pertama sebagai penyebab kebutaan di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menyebutkan, sebanyak lebih dari 50 persen kebutaan disebabkan oleh katarak.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang menderita katarak. Salah satu yang paling umum adalah faktor usia. Itulah sebabnya, penderita katarak umumnya orang berusia lanjut, lebih dari 50 tahun.

Namun ternyata katarak juga bisa menyerang usia yang lebih muda. Dokter spesialis mata Setiyo Budi Riyanto mengatakan, mereka terserang katarak karena terpapar terlalu banyak sinar ultraviolet.

"Indonesia mendapat sinar matahari dalam waktu yang panjang. Selain faktor usia, sinar UV menjadi penyebab utama kekerihan lensa mata kita," kata dokter Setiyo dalam konferensi pers di Rumah Sakit JEC, Kedoya, Jakarta, Sabtu (10/10).

Dia menjelaskan, ada perubahan metabolisme pada lensa mata akibat paparan sinar ultraviolet. Akibatnya lensa yang tadinya jernih menjadi keruh.  

Tak heran jika penderita katarak juga banyak berada di daerah pesisir. Banyak nelayan yang akhirnya harus menderita katarak karena terlalu banyak berhadapan langsung dengan sinar ultraviolet.

Bahkan, Setiyo mengungkapkan kalau katarak juga bisa terjadi sejak bayi. Salah satu penyebabnya adalah saat di dalam kandungan sang inu terkena virus rubela.

"Kalau orang tua serius perhatikan, itu tandanya ada warna putih di pupil. Harusnya kan hitam," ujar Ketua Indonesian Society Cataract and Refractive Surgery itu.

Masyarakat belum paham tentang katarak

Dari banyak tempat yang pernah dikunjugi Setiyo untuk melakukan operasi katarak gratis, seperti Rangkas Bitung dan Sukabumi, ternyata masih banyak orang yang belum paham dan sadar kalau dirinya menderita katarak. Kebanyakan menyepelekan gangguan penglihatan yang mereka rasakan.

"Mereka cuma merasa penglihatannya kabur, berkabut, melihat sinar lampu cahaya pecah, penglihatan di ruangan gelap. Biasanya itu yang mereka keluhkan dan dibiarkan saja tidak di bawa ke dokter," ujar Setiyo.

Sekalipun tahu kalau menderita katarak, kata Setiyo, kebanyakan mereka takut untuk dioperasi. Mungkin hal itu jugalah yang menyebabkan angka penderita katarak di Indonesia tinggi. Urutan kedua setelah Ethiopia dengan angka kebutaan tertinggi.

Padahal saat ini teknologi untuk operasi katarak sudah sangat canggih. Tanpa menggunakan pisau, tanpa harus berdarah-darah dan luka yang berarti. Setiyo mengatakan penyembuhannya pun sangat cepat.

Saat ini pemerintah pun sedang berupaya menuntaskan angka katarak di Indonesia sehingga tahun 2020 Indonesia bisa bebas katarak. Untuk itu diharapkan para penderita katarak mau dioperasi agar bisa sembuh dan kembali normal.

Data dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi katarak adalah 0,1 persen per tahun. Artinya dari 1000 orang terdapat satu orang penderita katarak baru.

Jika dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, berarti ada sekitar 250 ribu penderita katarak baru setiap tahunnya.

Dibandingkan dengan penduduk di negara lainnya, penduduk Indonesia mempunyai kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penduduk di daerah subtropis. Jika biasanya katarak menyerang orang di usia lebih dari 50 tahun, di Indonesia 16-22 persen berusia di bawah 50 tahun.