Untuk beberapa ayah, membahas masalah pubertas begitu menakutkan, hingga akhirnya mereka menyerahkan hal ini kepada para ibu.
Namun, Natterson mengatakan, yang terpenting adalah fokus pada bagaimana Anda berbicara tentang hal tersebut, dan bagaimana mengatakannya. “Jangan hanya membicarakannya sekali. Anda perlu membicarakannya berulang-ulang selama bertahun-tahun.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seorang anak perempuan pada 1860 mendapatkan mentruasi pertamanya sekitar usia 16. Anak perempuan di era 1920-an mendapatakan menstruasi pertama pada usia 14. Sekarang, anak perempuan mendapatkan menstruasi pertama pada usia 12 tahun," kata Natterson.
Bagi beberapa ibu, membahas pubertas dengan anak perempuan adalah mudah. Ibu juga dianggap bisa mengomunikasikan tentang pubertas jauh lebih detail, dibanding ayah. "Ibu harus sangat terbuka dengan putri mereka tentang apa yang akan terjadi pada tubuh mereka saat dewasa,” tambah dia.
Cara membicarakan soal pubertas pun tidak melulu harus dengan cara yang serius. Seperti yang dilakukan Garima Raheja, ibu dari putri berusia sembilan tahun. Dia memberikan pendidikan tentang pubertas sejak putrinya berusia tujuh tahun. Awalnya, Raheja bicara kepada putrinya tentang tanaman, kemudian mamalia, lalu menggambar proses kelahiran.
“Saya menunjukkan padanya pembalut, dan cara menggunakannya,” kata Raheja. "Dengan demikian, saat dia pertama kali mengalami menstruasi, dia tidak perlu takut akan apa yang terjadi." (win/les)