Studi tersebut menemukan mereka yang punya perilaku kompulsif cenderung tidak sabar, mudah bosan dan cepat frustrasi. Guna mengatasi hal tersebut, mereka biasanya melakukan kebiasaan berulang, dari menggoyang kaki hingga menggigit kuku.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Behavior Therapy dan Experimental Psychiatry tersebut, memfokuskan pada sifat perfeksionis, karakter yang sebenarnya lebih membahayakan daripada yang disangka selama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, perilaku kompulsif tersebut kan memicu frustrasi, rasa kecewa dan bisa berujung pada depresi. Dalam studi tersebut, para peneliti memelajari 48 partisipan, dimana 50 persen dari mereka punya perilaku kompulsif. Sisanya, yang tidak punya kecenderungan perfeksionis, bertindak sebagai kelompok kontrol.
Kedua kelompok kemudian diberi pertanyaan seputar emosi yang kerap mereka rasakan, termasuk rasa bosan, marah, bersalah, terganggu dan cemas. Lalu, kedua kelompok juga dihadapkan pada kondisi yang memicu berbagai emosi, termasuk stres, frustrasi, bosan, serta santai.
Hasilnya, mereka yang punya sejarah perilaku kompulsif, cenderung tidak bisa diam ketika merasa stres atau frustrasi. Mereka terlihat berusaha melakukan sesuatu sepeti mengigit kuku atau memainkan rambut. Sementara saat santai, kelompok kompulsif melaporkan tidak ada keinginan untuk melakukan kebiasaan mereka.
O’Connor menyimpulkan kebiasaan kompulsif, jika terjadi tidak terlalu sering, tergolong baik untuk kesehatan jiwa.
“Hal itu membantu tubuh mengalokasikan energi, meregulasi emosi dan membuat Anda produktif,” kata dia.
Namun, jika kebiasaan itu tidak bisa dikontrol dan mengganggu aktivitas sehari-hari, itu termasuk pada kelainan perilaku dan membutuhkan terapi. (les/les)