"Hipoglikemia itu lebih bahaya dari hiperglikemia, karena bila terlambat ditangani dapat menyerang jantung, dan meninggal," kata Budiman Darmowidjojo, ahli penyakit dalam, endokrin, dan diabetes dalam sebuah seminar diabetes di JW Marriot Hotel Kuningan, Jakarta, Rabu (4/11).
"Kalau hiperglimekia biasanya hitungan bulan atau tahun, kalau hipoglikemia efeknya terlihat dalam hitungan menit," jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gejala yang dapat muncul seperti berkeringat dingin, palpitasi atau berdebar-debar, pucat, nyeri dada, cemas, gemetar, lapar, penglihatan kabur, sakit kepala, bingung, hingga kejang. Kondisi semua atau salah satunya terjadi bukan semata karena faktor penyakit diabetes semata, namun karena efek dari penggunaan obat-obatan penurun kadar gula darah yang biasanya dikonsumsi oleh para diabetesi.
"Hipoglikemia di Indonesia kebanyakan karena obat, obat yang ada dalam pelayanan primer itu glibenclamide dan metformin," kata Budiman.
Glibenclamide ataupun yang juga dapat dikenal dengan glyburid adalah jenis kandungan obat yang diberikan dengan fungsi merangsang sel beta pankreas menghasilkan lebih banyak insulin guna mencerna gula dalam darah penderita diabetes tipe-2. Namun, obat ini memiliki performa tak sebaik metformin dan menjadi penyebab utama terjadinya hipoglikemia. Metformin sendiri memiliki efek samping berupa gangguan pencernaan.
Penggunaan glibenclamide harus tegas sesuai dosis dan diminum 30 menit sebelum makan. Bila diabetesi meminum glibenclamide lalu lupa atau lama tak makan, maka hipoglikemia dapat terjadi.
"Bila terjadi gejala hipoglikemia, memang harusnya langsung memastikan kondisi gula darah, namun bila tidak sanggup atau sudah mendesak, harus langsung mengonsumsi yang manis seperti air gula ataupun cokelat," kata Budiman. (les/les)