Kenali Perbedaan Cemas dan Takut

Endro Priherdityo , CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2015 11:07 WIB
Kenali Perbedaan Cemas dan Takut Ilustrasi wanita ketakutan (Helga Weber/Flickr)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernah merasakan perasaan galau karena seseorang yang disayang tak ada kabar lalu muncul pikiran-pikiran 'aneh' mengenai orang tersebut? Atau pernahkah enggan melewati suatu jalan karena terkenal adanya pemuda-pemuda bertampang sangar dan berdandan ala preman nongkrong di pinggir jalan?  

Antara kedua kejadian tersebut, tahukah Anda kejadian apa yang disebut cemas dan peristiwa yang dinamakan takut?

Kedua peristiwa tersebut walaupun menimbulkan perasaan tak nyaman yang sama dalam diri, namun keduanya berbeda.
 Kejadian pertama, galau karena tak ada kabar, disebut dengan cemas. Sedangkan kejadian kedua yang terkait dengan preman, disebut takut.  

"Cemas itu sebenarnya ketakutan dengan sesuatu yang tidak jelas, sedangkan takut memiliki sumber ketakutan yang jelas ada di depan mata," kata Danardi Sosrosumihardjo, spesialis kesehatan jiwa saat ditemui dalam seminar kelola kecemasan di Grand Indonesia, belum lama ini. 

Dalam banyak literatur, kecemasan lebih bersifat irasional karena tidak memiliki alasan ataupun objek ketakutan yang jelas, seperti mengawang-awang ataupun belum pasti keberadaannya. Sedangkan takut bersifat lebih rasional karena memiliki objek yang nyata. 

Kecemasan ataupun ketakutan sebenarnya adalah hal yang lumrah dan manusiawi, namun akan menjadi berbahaya bila kecemasan tersebut tak dapat ditangani secara baik. Dengan kecemasan yang di luar kendali seperti depresi, dapat mengganggu fisik hingga fungsi saraf otonom.  

Dalam banyak kasus, kecemasan yang berlebihan sanggup membuat kerja lambung, paru-paru, dan jantung menjadi tidak normal. Sehingga, seringkali penderita dengan kecemasan yang tinggi merasa seolah-olah akan mati karena dada sesak atau perut sakit, namun hasil laboratorium menyatakan semua organ berfungsi baik. Kejadian ini disebut serangan panik, saat sang penderita mengalami 'serangan' padahal kondisinya baik-baik saja, atau tidak ada yang menyebabkan kecemasan. 

Penyebab kecemasan sendiri tidak dapat ditentukan secara pasti. Menurut Danardi, bila dirunut dan dijabarkan berdasarkan buku kesehatan jiwa pegangan para psikiater, gejala kecemasan dan gangguan kejiwaan dapat mencapai 280 jenis.  

Namun, secara garis besar, penyebab kecemasan atau anxiety dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu secara biologis, psiko-edukasi, dan sosio kultural.  

Secara biologis, pengaruh hormon dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang seperti ketika wanita mendapatkan menstruasi lalu menjadi sensitif dan moody. Kejadian yang menyebabkan trauma termasuk salah satu contoh dari golongan psiko-edukasi. Lalu sosio-kultural pada umumnya datang dari adat, pandangan budaya, ataupun agama yang bertentangan dengan kondisi seseorang. 

"Orang yang memiliki karakter perfeksionis rentan mengalami kecemasan karena orang jenis ini selalu tegang setiap saat," kata Andri, psikiater Rumah Sakit OMNI yang ditemui dalam kesempatan yang sama.  

Mencegah Cemas dan Takut 

Meski kecemasan dapat berakibat fatal, namun bukan berarti tidak dapat ditangani ataupun dicegah sebelum menjadi semakin parah.

Menurut kedua ahli kejiwaan ini, masing-masing orang memiliki coping mechanism atau mekanisme dalam menyelesaikan masalah, termasuk kecemasan.
 Coping mechanism yang dimiliki oleh masing-masing orang berbeda, begitu pula dengan kecemasan yang dialaminya. Andri menjelaskan bahwa setiap pribadi dapat belajar mengendalikan kecemasan dengan self healing dan meningkatkan coping mechanism 

Self healing ini dapat dilatih dengan menerima kondisi dan situasi dengan lapang dada, dan berkonsultasi dengan psikiater untuk mendapatkan bantuan.

Selain itu, kondisi lingkungan juga mempengaruhi kemampuan ini. Semakin baik lingkungannya, maka kemampuan orang untuk mengelola kecemasan semakin baik.
 

"Orang menjadi depresi bukan kejadian langsung terjadi, tapi merupakan akumulasi dari kecemasan yang dialami. Akumulasi tersebut menyebabkan gangguan keseimbangan sistem neurotransmitter di otak," kata Andri.

"Penggunaan obat baru akan digunakan hanya untuk membuat stabil kondisi sistem yang sudah parah, baru kemudian di terapi." lanjutnya.
(les)