Selama dua minggu para peneliti mengamati 150 orang dewasa makan siang di sebuah restoran prasmanan all you can eat Italia. Para peneliti dari Cornell University, yang bekerjasama dengan Food and Brand Lab Cornell untuk studi ini mencatat berapa banyak potongan pizza dan berapa mangkuk salad yang dikonsumsi oleh subjek.
Laki-laki yang berpasangan dengan perempuan menyantap 93 persen pizza lebih banyak dan 83 persen salad lebih banyak daripada laki-laki yang makan dengan laki-laki lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika pengunjung beranjak pergi dari restoran, para peneliti maju untuk meminta mereka melengkapi survei singkat. Survei tersebut ingin mengetahui tingkat kenyang mereka setelah makan, tingkat ketergesaan dan kenyamanan ketika makan.
Hasil studi menunjukkan, perempuan tidak mengubah jumlah yang mereka makan saat makan dengan kedua jenis kelamin. Namun sebaliknya, mereka melaporkan, merasa kebanyakan makan dan merasa tergesa-gesa ketika makan dengan kedua jenis kelamin.
Namun, berdasarkan data yang dikumpulkan saat observasi, peneliti melaporkan, tidak satu pun dari keterangan tersebut yang sesuai.
Ketika mengonsumsi makanan berlebihan, laki-laki tanpa disadari memberikan sinyal kebugaran biologis mereka, kata Kniffin menjelaskan. Temuan ini sesuai dengan dengan perilaku lain di mana lelaki memamerkan kebugaran mereka dengan makan berlebihan.
Perilaku berisiko yang tidak sehat ini adalah cara laki-laki membuat teman perempuan mereka tahu bahwa mereka dapat menolerir perubahan, bahkan yang dapat merugikan diri sendiri.
Meskipun hasil studi ini memberi kesan laki-laki yang makan berlebihan, justru perempuan yang melaporkan telah makan berlebihan. Kiffin mengatakan, ada pelajaran yang bisa dipetik dari studi ini.
“Temuan ini jelas mengatakan bahwa orang-orang harus tenang ketika makan dengan lawan jenis.”
(win/utw)