Tapi, tidak demikian dengan masyarakat di daerah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh UNICEF di beberapa daerah di Indonesia seperi di anataranya Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, ternyata masih ada kesalahpahaman tentang menstruasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, bahkan di sebuah daerah, orang tua maupun guru tidak memberikan pengetahuan tentang menstruasi kepada siswa perempuannya. Akibatnya ketika siklus itu datang mereka tak tahu harus melakukan apa.
"Saya tidak tahu apa itu menstruasi dan saya tidak tahu cara menggunakan pembalut. Ibu saya berkata untuk menggunakan pembalut dan saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan benda tersebut," kata seorang anak perempuan dari Sulawesi Selatan.
"Orang-orang akan menatap saya jika ada noda pada pakaian saya ketika pulang dari sekolah. Bahkan akan menjadi topik hangat jika hal tersebut terjadi," kata seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP.
Berdasarkan penelitian tersebut, disimpulkan bahwa di daerah, pengetahuan tentang menstruasi masih minim. Para sumber informasi seperti ibu, guru, dan teman-teman tidak siap untuk memberikan informasi yang akurat dan menyeluruh untuk anak perempuan.
Permasalahan tentang menstruasi tak hanya berhenti di situ. Buruknya fasilitas air dan sanitasi juga menambah permasalahan sendiri bagi perempuan yang berada di daerah.
Misalnya saja tidak ada tempat pribadi bagi perempuan untuk bersih-bersih pada saat menstruasi di sekolah atau di tempat umum karena penggunaan toilet masih sering dicampur dengan laki-laki. Tempat untuk membuang pembalut pun tidak tersedia. (les)