Yogiswari mengambil kain tenun Gedog yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Kain ini pada dasarnya hampir mirip dengan tenun lainnya, terbuat dari serat kapas, dan ditenun dengan mesin manual.
Adapun, nama tenun gedog diambil dari bunyi mesin tenun yang bersuara "dok..dok..dok" saat digunakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koleksi Gedoglicious karya Yogiswari Prajanti. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Usai ditenun, kain Gedog kemudian dibatik. Proses pembatikan yang terjadi pada kain Gedog dilakukan secara tulis sehingga secara kasat mata tidak akan ada beda dengan kain batik tulis pada umumnya.
Warna yang digunakan pun dominasi pewarna alam seperti sogan, biru tua, merah, dan hitam. Namun bila dirasa dan ditelisik lebih detil, maka akan terlihat tekstur khas kain tenun yang saling silang, tebal, namun nyaman digunakan.
"Tenun gedog ini juga sulit ditemukan di luar Tuban, saya jadi penasaran kenapa begitu sulit padahal di internet juga banyak. Mereka tidak ingin mengirim ke luar Tuban," kata Yogiswari saat berbincang dengan CNN Indonesia.
Koleksi Gedoglicious karya Yogiswari Prajanti. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Setelah bertemu dengan penyedia kain, ia semakin tertarik pada kain tenun yang memiliki motif tak jauh berbeda dengan kain batik pesisir Jawa pada umumnya. Kebanyakan terinspirasi dari bentuk tanaman seperti daun dan bunga, serta hewan seperti burung.
Guna membuat kain tenun ini lebih terlihat moderen, Yogiswari mengombinasikannya dengan bahan lain seperti linen, satin silk, jacquard, prada, dan tenun baron. Kombinasi tersebut terlihat dalam susunan desain yang digunakan.
Potongan asimetris dengan pola tabrak yang ia gunakan merefleksikan kecintaan Yogiswari terhadap desain khas Jepang, seperti Harajuku style.
Koleksi Gedoglicious karya Yogiswari Prajanti. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Tak seperti beberapa desainer muslim yang tetap menonjolkan lekuk tubuh, Yogiswari yang tak berhijab ini konsisten memilih model longgar dengan sedikit siluet A-line pada bagian bawah. Berkesan chic namun tetap syar'i.
"Saya tidak ingin menggunakan kerudung yang macam-macam, selain ribet, saya ingin orang-orang terfokus pada baju yang saya tampilkan," kata Yogiswari.
Pilihannya tak salah, baju koleksi Yogiswari ini sebenarnya tetap cantik tanpa menggunakan hijab sekalipun. Dengan model baju yang sudah 'cukup ramai', tak menuntut pengguna menambah aksesori lainnya.
Koleksi Gedoglicious ini sepenuhnya ramah lingkungan, dibuat manual dengan tangan dan menggunakan pewarna alam. Warna tenun Gedog yang 'membumi' menjadi tantangan tersendiri bagi Yogiswari.
Tenun Gedog yang sulit ditemukan di luar Tuban, menjadikan koleksi buatan Yogiswari ini cukup eksklusif. Harganya pun lebih dari Rp4 juta per potongnya. Pun demikian, Yogiswari menyisipkan banyak pesan moral dalam setiap potong pakaiannya, dari ramah lingkungan hingga pelestarian budaya. (les)
Koleksi Gedoglicious karya Yogiswari Prajanti. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Koleksi Gedoglicious karya Yogiswari Prajanti. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Koleksi Gedoglicious karya Yogiswari Prajanti. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)