Prestasi seekstrem itu adalah alasan yang tepat untuk mempelajari betapa aktivitas tersebut mengakibatkan stres bagi tubuh manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sebelumnya, dikira tulang rawan hanya dapat beregenerasi saat beristirahat,” ujar kepala peneliti Uwe Schütz kepada New Scientist. “Kami sudah tunjukkan untuk yang pertama kali bahwa tulang rawan dapat beregenerasi saat berlari.”
Peneliti juga mengungkapkan hasil penelitian mereka itu dalam pertemuan tahunan Radiological Society of North America.
Yang luar biasa, mereka juga menemukan bahwa otak seorang pelari menyusut sebanyak 6 persen pada akhir lomba. Latihan memang dianggap bermanfaat bagi otak karena dapat menunda pikun dan mengatasi depresi, namun otak yang menyusut, secara umum tidaklah baik.
Para peneliti Ulm belum yakin mengapa otak menyusut setelah lari dalam jarak yang demikian panjang, selain semata-mata karena kelelahan ekstrem dan asupan makanan yang buruk.
Di antara para pelari ultramarathon, daerah otak yang paling banyak menyusut adalah yang terlibat dalam pemrosesan visual. Bisa jadi karena bagian otak itu kurang stimulasi karena hanya melihat jalanan selama 64 hari berturut-turut. Bisa jadi pula hasil mekanisme 'penggandaan' untuk mengalihkan energi berharga ke bagian tubuh yang lebih membutuhkan.
Kabar baiknya, setelah enam bulan, ukuran otak seluruh pelari kembali lagi ke ukuran semula. Dan mereka yang hanya lari marathon tunggal, atau seperti umumnya yang hanya joging dalam jarak pendek, tak akan mengalami hal yang sama. (win/les)