Rata-rata, pemandu sorak biasanya mengalami kurang dari satu kali cedera untuk setiap 1.000 menit waktu partisipasi. Artinya, tidak lebih dari satu kecelakaan setiap 17 jam, ungkap studi tersebut seperti dilaporkan oleh Reuters.
Dibandingkan kebanyakan olahraga lain di SMA, olahraga pemandu sorak jauh kurang berbahaya, hanya atletik dan renang yang lebih aman. Tingkat cedera pada olahraga sepakbola empat kali lebih tinggi, pada olahraga perempuan dan tiga kali lebih tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Currie mengatakan, meskipun tingkat cedera pemandu sorak lebih rendah, tapi ketika terjadi kecelakaan, mereka cenderung mengalami kondisi yang lebih parah dari olahraga lain, misalnya gegar otak, patah tulang, dan lain-lain.
“Mungkin karena karena sifat olahraga tersebut lebih mungkin jatuh dari ketinggian, misalnya melompat sambil melakukan akroba, atau mendarat pada atlet lain.” Para peneliti melaporkan dalam jurnal Pediatrics bahwa lebih dari setengah dari semua kecelakaan olahraga pemandu sorak terjadi saat melakukan akrobat.
Kendati hampir semua kecelakaan terjadi pada anak perempuan, tingkat cedera pada pemandu sorak laki-laki 33 persen lebih tinggi dibandingkan perempuan. Hal tersebut mungkin disebabkan karena pemandu sorak laki-laki seringkali berada di dasar piramida dan melakukan formasi lain seperti akrobat di udara, kata Currie.
(win/win)