Mengupas Pengaruh Musik Elektronik Pada Otak

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Senin, 14/12/2015 11:34 WIB
Mengupas Pengaruh Musik Elektronik Pada Otak Penonton larut dalam kemeriahan Djakarta Warehouse Project 2015 di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat, 11 Desember 2015. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pekan ini, masyarakat Jakarta disibukkan dengan rave party tahunan Djakarta Warehouse Project (DWP), festival musik elektronik yang mengajak orang berdansa semalaman. DWP digelar selama 2 hari berturut-turut pada 11-12 Desember 2015 dan menghadirkan disc jockey kelas dunia, diantaranya DJ Snake, Tiesto, serta Major Lezer.

Musik elektronik yang juga disebut electronic dance music (EDM) itu, kini tengah gandrung di kalangan kaum muda. Padahal, di kalangan media mainstream, EDM dianggap sebagai ‘kehancuran’ tren anak muda masa kini. EDM bisa dianalogikan sebagai musik rock’n’roll di era 80an, yang diberi label sebagai musik bagi para pemberontak.

Rave party sendiri dianggap negatif karena umumnya, para penikmat pesta musik itu lekat dengan penggunaan obat-obatan terlarang, seperti ekstasi dan LSD.


Tapi benarkah EDM yang memengaruhi para penikmatnya untuk mengonsumsi narkotika? Tentu saja tidak. 

Melansir laman dancemusicnw.com, EDM hanyalah musik yang memayungi berbagai genre musik elektronik, termasuk tekno, house, trance, hardstyle, drum dan bass, dubstep, trap, Jersey club dan berbagai subgenre lainnya.

Seperti genre musik lain, EDM memang punya pengaruh pada kehidupan manusia. Secara umum, EDM memiliki ketukan irama yang cepat yang membangkitkan semangat.

Secara tidak sadar, tubuh memang merespon musik dengan melepas serotonin yang memengaruhi rasa bahagia. Selain itu, tubuh juga memproduksi dopamin, hormon yang membuat manusia merasa bersemangat. Di saat yang sama, otak akan melepas norefineprin, yang meningkatkan konsentrasi serta rasa euforia.

Semakin cepat irama musik, semakin banyak pula hormon yang dikeluarkan. Tidak heran bila EDM bisa memicu semangat untuk berdansa semalaman.

Di beberapa eksperimen, musik elektronik juga terbukti punya pengaruh dalam mengatasi gangguan mood, stres dan depresi. Banyak penelian menyebut musik merupakan terapi anti-depresan yang ampuh. Namun, jenis musik pelepas stres bagi setiap orang, tentu berbeda.

Para peneliti menganjurkan jenis musik elektronik dengan ketukan pelan dan menenangkan untuk meredakan ketegangan saraf, seperti Chillstep atau Chillwave.

Sementara bagi mereka yang membutuhkan konsentrasi tinggi, musik elektronik dengan ketukan 50-80 BPM (beat per minute), merupakan yang paling sesuai untuk belajar atu bekerja. Alasannya, ketukan itu tidak akan mengalihkan perhatian dari fokus. Contoh musik elektronik dalam kisaran tersebut adalah Minimal House atau Ambient.

Lain lagi dengan musik untuk meditasi. Mereka yang membutuhkan ketenangan pikiran dan kedamaian, bisa mencoba subgenre elektronik eksperimental, yang dipercaya bisa membuat otak ‘diam’.

Adapun untuk mereka yang ingin berolahraga, Dubstep, Drum&Bass serta Breaks/Breakbeats adalah subgenre yang tepat. Jenis musik dengan ketukan diatas 100 BPM secara otomatis akan membuat badan bergerak.

(les)


ARTIKEL TERKAIT