Namun pekan lalu, sebuah peristiwa menyedihkan terjadi. Toys "R" Us menutup salah satu toko terbesarnya di Broadway and 44th Street, Times Square, New York.
Melansir Daily Mail, raksasa ritel mainan itu tidak mampu mengikuti lonjakan harga sewa properti yang semakin meroket di New York, ditambah gempuran pasar e-commerce. Dua hal itu sontak memukul mundur bisnis Toys "R" Us yang masih bergelut di pasar konvensional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sungguh sedih, orang-orang tidak bisa lagi datang kemari. Toko ini memberi banyak kenangan,” kata Farah Haidar (35), ibu rumah tangga asal Astoria, Queens.
Memahami rasa sedih para konsumennya, pihak Toys "R" Us berjanji akan kembali membuka toko ikonik mereka, namun lokasi dan waktunya belum ditentukan.
“Kami masih mencari lokasi di pusat kota Manhattan,” kata juru bicara Toys "R" Us Victoria Scipione.
Dia melanjutkan, penutupan Toys "R" Us di Times Square semata-mata karena harga sewa properti yang melambung. Jika sewa dilanjutkan, maka Toys "R" Us harus membayar biaya sebesar US$42 juta setahun atau Rp581 miliar, untuk satu lantai.
Toko ikonik Toys "R" Us di Times Square pertama kali dibuka pada 2001. Sepanjang toko tersebut berdiri, Toys "R" Us telah menjadi destinasi utama bagi anak-anak di Manhattan. Bagaimana tidak, toko tersebut dilengkapi bianglala setinggi 18 meter, serta replika Tyrannosaurus atau T-Rex setinggi enam meter. Selain itu, di Toys "R" Us Times Square, anak-anak perempuan bisa "bertamu" ke rumah Barbie yang dibuat berukuran jumbo.
Bagi banyak anak-anak, toko tersebut adalah perwujudan mimpi. Namun, kini setelah 14 tahun mewujudkan fantasi masa kecil, Toys "R" Us akan menutup pintunya.
Langkah serupa dilakukan toko mainan ikonik lainnya, FAO Schawrz. Mereka menutup tokonya, pada Juli lalu, juga karena tersandung biaya sewa. (les)