"Efeknya tidak ada mimisan, bengep, seperti intimidasi fisik, tapi nikam banget ke dalamnya (jiwa), kena banget. Oleh sebab itu biasanya tingkat bunuh diri paling banyak berasal dari cyber bullying dan verbal bullying," kata Liza dalam acara peluncuran kampanye gerakan #rayakannamamu yang diadakan oleh Coca Cola di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (13/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Parahnya, pada orang tertentu, dampak bullying itu bisa melekat dalam jangka waktu yang cukup lama. Bahkan tidak jarang juga orang yang di-bully di masa kecilnya mengalami dampaknya sampai dewasa, misalnya tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk tampil di depan orang lain.
Adapun jenis-jenis verbal bullying meliputi pemberian nama atau julukan tertentu, menghina, mengejek, mengintimidasi, komentar bernada rasis, maupun kekerasan verbal lainnya.
Kebanyakan verbal bullying dilakukan oleh perempuan. Mereka menggunakan verbal bullying sebagai sebuah teknik sosial untuk mendominasi dan memperlihatkan kelebihan serta kekuatannya.
Kendati demikian, laki-laki juga terbukti banyak yang melakukan verbal bullying. Mereka biasanya melakukan tipe bullying tersebut untuk mendominasi. Laki-laki akan menggunakan kata-katanya ketika mereka menghindari masalah tertentu yang pada akhirnya justru mengarah pada bullying terhadap orang lain.
Liza mengatakan biasanya pelaku bullying memilih korbannya terlebih dahulu sebelum melakukan verbal bullying. Mereka biasanya akan mengincar orang-orang yang dianggap lebih lemah darinya.
"Biasannya mereka mengincar orang yang tidak punya teman, seperti terisolasi, minderan, dan tidak banyak omong. Pelaku juga tidak asal memilih korbannya," ujar Liza.
Di sisi lain, Liza mengatakan, para pelaku bullying biasanya juga memiliki masalah tertentu. Kondisi psikologis mereka juga biasanya bermasalah. Entah itu di lingkungan rumah, sekolah atau lingkungan kerja.
Meski dampaknya begitu besar dan sulit dideteksi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghindari verbal bullying. Liza menyarankan untuk tidak menghiraukan ejekan pelaku bullying.
"Jangan dianggap. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Kalau dicuekin mereka akan capek kok," ujar Liza.
Jika dihadapi dengan menangis, atau ekspresi yang terkesan menolak, pelaku bullying justru semakin senang dan akan terus melakukan bullying.
"Jangan membalas mereka, karena sama saja Anda turun ke level mereka," kata Liza. (les)