Sosiolog: Ada Perubahan Norma Ketika Wanita Jadi Sopir Ojek

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Rabu, 20/01/2016 11:15 WIB
Sosiolog: Ada Perubahan Norma Ketika Wanita Jadi Sopir Ojek LadyJek, aplikasi pemesanan ojek namun dikemudikan untuk wanita dan hanya menerima penumpang wanita (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina).
Jakarta, CNN Indonesia -- Jumlah pengemudi ojek perempuan di Jakarta semakin bertambah seiring dengan semakin menjamurnya jasa layanan pemesanan ojek online, bahkan jumlah penyedia layanan ojek online khusus perempuan juga ikut berkembang. Kini ada jasa layanan Ladyjek dan Sister Ojek.

Reuters melaporkan bahwa sejak diluncurkan pada Oktober lalu, aplikasi Ladyjek telah diunduh lebih dari 50 ribu kali dan ratusan warga tercatat menggunakannya setiap hari. Hal ini menandakan bahwa permintaan layanan ojek khusus perempuan meningkat sejak mulai beroperasi. 

Pemintaan akan layanan ojek online khusus perempuan ini juga meningkat di tengah kondisi Jakarta yang rawan tindak kriminalitas. Kasus perkosaan yang banyak terjadi membuat banyak perempuan takut untuk memilih pengendara ojek laki-laki.


"Kalau di transportasi publik lainnya seperti angkot, saya tidak nyaman harus desak-desakan dengan banyak laki-laki. Saya lebih merasa aman ketika naik Ladyjek karena sopirnya perempuan," kata Uki Pratiwi, salah satu pengguna ojek khusus perempuan, seperti dikutip Reuters.

Sosiolog Universitas Indonesia, Ganda Upaya mengatakan, selain faktor permintaan, fenomena meningkatnya permintaan layanan ojek yang dikemudikan perempuan ini juga dipengaruhi oleh faktor lain yaitu ekonomi.

Ganda Upaya mengatakan peningkatan jumlah penduduk  membuat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin tinggi, dan ini mendorong kaum perempuan memutuskan untuk melakukan berbagai jenis pekerjaan apapun untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. 

Ganda juga menambahkan, kondisi ini lama-kelamaan mengubah norma yang ada di masyarakat. Jika sebelumnya perempuan tidak mau mengerjakan pekerjaan laki-laki, kini mereka mau melakukannya. Akhirnya masyarakat pun bisa menerima perubahan ini  secara terbuka.

Apalagi kondisi ini didukung dengan bukti bahwa perempuan juga bisa melakukan pekerjaan yang tadinya hanya bisa dilakukan oleh laki-laki itu. Salah satunya menjadi sopir ojek, sopir bus, atau bahkan menjadi masinis, tambah Ganda.

"Ada perubahan sosial yang besar dalam masyarakat Indonesia yang selama ini patriarki. Perempuan sekarang merasa setara dengan laki-laki jadi mereka merasa identitasnya sama-sama pekerja sekarang," kata Ganda kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/1).

Perubahan fenomena dan pergeseran norma yang telah terjadi saat ini, kata Ganda, memiliki dampak positif dan negatif. Positifnya, perempuan menjadi punya keleluasaan untuk mendapatkan pendapatan sendiri.

Lapangan pekerjaan yang semakin terbuka membuat perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga atau wanita pekerja kantoran, tapi bisa juga melakukan pekerjaan seperti sopir kendaraan umum.

Fenomena tersebut juga membawa dampak lain yang menurut Ganda menyangkut masalah keluarga. Perempuan yang sudah berkeluarga biasanya akan mengalami masalah pembagian kerja yang berkaitan dengan rumah tangga demi profesi barunya itu.

"Pembagian kerja di rumah jadi persoalan antara laki-laki dan perempuan. Harus ada kesepakatan di antara keluarga misalnya bagaimana mendidik anak-anaknya," ujar Ganda.

Memang tidak bisa dimungkiri, menjadi pengemudi ojek secara tak langsung juga akan menguras waktu perempuan untuk keluarga, apalagi ketika si perempuan itu tidak bekerja sebelumnya. Jenis pekerjaan ini memang tidak memiliki "jam kerja" tertentu dan pelaku bisa mengatur sendiri hal itu. Hanya saja, untuk mendapatkan penghasilan yang lebih banyak maka waktu 'narik' juga harus lebih lama.

Sementara itu, bagi perempuan-perempuan yang masih lajang, akan terjadi perubahan lainnya. Secara sosiologis, Ganda mengatakan akan ada penundaan dalam usia pernikahan karena mereka lebih asyik bekerja.
(chs/chs)


ARTIKEL TERKAIT