Dalam beberapa peta wisata, penunjuk lokasi wisata juga ditulis dengan menggunakan simbol bahasa Sansekerta kuno, swastika. Simbol ini biasa digunakan di peta wisata di Jepang untuk menunjukkan letak kuil Buddha. Namun bagi banyak wisatawan asing yang datang ke Jepang, simbol ini dianggap lebih dekat dan akrab dengan Nazi dibanding kuil. Hal ini menyebabkan kebingungan, dan dalam beberapa kasus menyebabkan adanya tekanan langsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena Jepang dipersiapkan untuk menjadi tuan rumah kedua Piala Dunia rugby dan Olimpiade musim panas di empat tahun ke depan, bagian Informasi Geospasial Kewenangan Jepang (GSI) mengungkapkan bahwa serangkaian simbol akan diperbaharui dalam peta wisata tersebut.
"Jepang perlu menciptakan kondisi di mana wisatawan asing bisa dengan mudah menggunakan transportasi dan menemukan akomodasi untuk mereka," seperti yang tertulis dalam laporan di GSI.
"Untuk itu sangatlah penting untuk menyebarluaskan peta multibahasa yang mudah dipahami wisatawan asing."
Enam dari 18 simbol yang membingungkan ini akan diganti, namun simbol ini akan dipertahankan dalam peta wisata untuk masyarakat lokal. Piktogram baru ini akan mulai berlaku di bulan Maret 2016 mendatang. Manji akan diganti dengan gambar pagoda bertingkat tiga. Namun langkah ini membuat marah beberapa orang Jepang yang menganggap ini menjatuhkan simbol yang mewakili budaya Buddha selama berabad-abad di Jepang.
(chs/chs)