Peneliti dari Lembaga Eijkman Amin Soebandrio mengatakan hanya ada satu kasus Zika yang diduga memiliki hubungan erat dengan mikrosefalus. Para peneliti menemukan virus Zika itu bersarang di bayi yang mengalami mikrosefalus.
Pilihan Redaksi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, belum tentu bayi yang lahir dengan mikrosefalus terkena virus Zika, atau sebaliknya, ibu yang terkena virus Zika akan melahirkan bayi dengan mikrosefalus.
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan mikrosefalus. Pertama adalah kelainan genetik. Sebab lainnya adalah infeksi, seperti campak Jerman (rubella), toksoplasmosis yang disebabkan parasit pada daging mentah dan kotoran kucing, juga Cytomegalovirus.
Cytomegalovirus adalah kelompok virus yang biasa menyerang manusia dan kera. Pada manusia, Cytomegalovirus disebut human cytomegalovirus atau HCMV. Beberapa jenis penyakit yang disebabkan HCMV adalah toxoplasmosis, rubella, dan herpes simplex. Tercatat, lima dari seribu kelahiran bayi terinfeksi HCMV.
Selain dari genetik dan infeksi kelompok virus, janin dapat terkena mikrosefalus akibat konsumsi alkohol oleh ibu selama masa kehamilan, malnutrisi, serta diabetes. Bila terjadi cacat pada tahun pertama bayi, itu dapat disebabkan luka pada otak semasa kehamilan.
Di sisi lain, Menteri Kesehatan Brasil Marcelo Castro mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah negaranya sangat yakin virus Zika memiliki hubungan dengan kecacatan lahir. Padahal bukti ilmiah masih belum ditemukan dan penelitian tentang hal tersebut masih terus berlangsung.
Castro mengatakan beda enam bulan antara waktu mewabahnya virus Zika dengan melonjaknya laporan kasus mikrosefalus bukanlah sebuah kebetulan belaka.
"Kami sangat yakin ada hubungan sebab-akibat antara mikrosefalus dengan zika," kata Castro dikutip dari Time. Menurutnya, para peneliti di pemerintahan setempat sepakat dengan pernyataan tersebut.
(sil/sil)