Waspadai Tempat Favorit Nyamuk Aedes

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Kamis, 18/02/2016 06:31 WIB
Nyamuk Aedes aegypti pembawa virus sangat senang berada di sekitar manusia. Mereka tinggal di dalam rumah dan di luar rumah. Nyamuk Aedes aegypti. (CNNIndonesia Reuters Photo/ Paulo Whitaker)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dokter dari Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Saleha Sungkar mengatakan nyamuk Aedes pembawa virus sangat senang berada di sekitar manusia. Mereka tinggal di dalam rumah dan di luar rumah.

Saleha menjelaskan ada dua jenis nyamuk Aedes yang berkembang dan menyebar di Indonesia, yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Keduanya sama-sama bisa menyebarkan virus seperti dengue, chikungunya, bahkan zika.

Meski berasal dari genus yang sama, kedua nyamuk itu memiliki perilaku berbeda. Saleha menjelaskan, nyamuk Aedes aegypti lebih sering bersarang di dalam rumah.


Aedes aegypti biasanya berdiam di tempat-tempat yang mempunyai bau manusia yang cukup kuat. "Nyamuk senang beristirahat di kamar tidur, di pakaian tegantung," kata Saleha dalam acara Diskusi Panel Virus Zika di Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu (17/2).

Selain itu, nyamuk Aedes aegypti juga mempunyai perilaku unik, yakni mudah panik.

"Kalau dia sedang menggigit, lalu korbannya bergerak, dia akan terbang. Dalam satu waktu satu nyamuk bisa menghisap darah enam orang," ujar Saleha.

Sedikit berbeda dengan Aedes aegypti, Aedes albopictus lebih suka bersarang di semak-semak atau tanaman. Namun, ketika ingin menghisap darah mereka juga bisa mencari mangsa sampai ke dalam rumah.

Kalau Aedes aegypti mudah panik, Aedes albopictus cenderung lebih tenang, sampai-sampai mendapat predikat aggresive feeder.

"Walaupun orang bergerak, dia akan tetap menghisap darah. Jadi dia juga mudah dibunuh," kata Saleha.

Berkembang biak di kelas menengah

Berdasarkan hasil penelitian Saleha dan timnya, nyamuk Aedes lebih banyak berkembang biak di permukiman kelas menengah. Sebab, masyarakat kelas menengah cenderung lebih suka menampung air.

"Kalau orang kelas bawah tidak punya tempat menyimpan air. Mereka memakai air seperlunya. Kalau orang menengah senang mandi pakai bak mandi, mereka senang menampung air," ujar Saleha.

Sementara itu, untuk orang kelas atas, cenderung tidak pernah menampung air. Misalnya saja, mereka lebih suka menggunakan shower untuk mandi ketimbang menggunakan air dari bak mandi.

Tak hanya kelas, kepadatan permukiman juga menjadi salah satu faktor penyebab berkembangnya nyamuk Aedes.

Tahun 2009 lalu, Saleha juga pernah melakukan survei ke rumah untuk meneliti kepadatan vektor demam berdarah dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Hasilnya urbanisasi yang tidak terkendali ternyata menyebabkan kondisi permukiman tidak kondusif dan menyumbang faktor risiko penyakit lebih tinggi.

"Akibatnya orang banyak menimbun air karena sulit diperoleh di permukimannya," kata Saleha.

Untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk di wadah berisi air, masyarakat dianjurkan untuk selalu membersihkan dan menguras bak dan penampungan lain. Mengurasnya harus disikat karena telur nyamuk biasanya lengket di dinding-dinding bak.

Selain menguras, masyarakat juga diminta menutup wadah penyimpanan air rapat-rapat ketika tidak digunakan. Jangan sampai ada celah sedikitpun karena jika ada celah, nyamuk masih bisa masuk dan malah membuat nyamuk betah karena merasa dilindungi.

Segala macam wadah yang tidak terpakai juga sebaiknya dibuang. Atau bisa juga dikubur untuk menghindari genangan air dan menarik nyamuk untuk bertelur.

(sil/sil)