"Dengan dibentuk menjadi desa wisata, setidaknya dapat menggulirkan perekonomian di desa sehingga memperkecil arus urbanisasi dan juga membantu mengentaskan kemiskinan," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Gede Yuniartha Putra, di Denpasar, belum lama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemprov Bali, ujar Yuniartha, menargetkan hingga 2018 dapat mengembangkan setidaknya 100 desa wisata. Sedangkan dari 2013 hingga 2015 sudah 42 desa yang difasilitasi untuk menjadi desa wisata.
Desa wisata yang telah dikembangkan, ucap dia, tidak hanya mendapatkan bantuan anggaran, juga mendapatkan pembinaan terkait dengan program Sapta Pesona maupun potensi yang cocok untuk dikembangkan sesuai dengan keunggulan yang dimiliki.
"Misalnya desa dengan potensi persawahan, tentunya harus dibarengi dengan kegiatan masyarakat bercocok tanam, maupun kegiatan ritual terkait," ujarnya.
Yuniartha menambahkan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten terkait program-program penguatan dan pendampingan yang bisa dilakukan untuk desa wisata. "Selain itu, kami juga menyambungkan dengan pihak agen perjalanan wisata," ujarnya.
Salah satu contoh pengembangan desa wisata yang berhasil adalah Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, yang mendapatkan juara I di Indonesia dan akan diajukan untuk bersaing di tingkat ASEAN. (antara/les)