Dilansir dari The Independent, para peneliti di Loughborough University memeriksa hubungan berolahraga dan pembatasan asupan makanan terhadap penurunan berat badan.
Selama studi, partisipan yang seluruhnya wanita, diminta untuk membatasi diet mereka dengan makan hanya sekitar 836 kalori, selama 8 jam. Mereka kemudian diundang untuk makan dengan bebas di meja prasmanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti menemukan bahwa wanita rata-rata mengonsumsi 944 kalori di meja prasmanan ketika mereka membatasi diet mereka. Sementara, kelompok yang berolahraga hanya mengonsumsi 660 kalori.
Menurut peneliti, membatasi jumlah makanan justru menyebabkan lonjakan hormon ghrelin yang memicu lapar dan penurunan tingkat peptide YY, yang menyebabkan penekanan pada lapar.
Temuan dari sampel penelitian yang melibatkan 12 perempuan ini, bertentangan dengan penemuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa olahraga membuat orang, khususnya perempuan, makan lebih banyak.
“Bertentangan dengan penelitian sebelumnya, olahraga justru menekan rasa lapar. Sementara membatasi asupan makanan justru membuat rasa lapar semakin menjadi,” kata Dr Stensel dari Loughborough University.
Meskipun begitu Dr Stensel menyebutkan dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi temuan tersebut. “Kami harus melakukan penelitian lanjutan untuk melihat apakah manfaat ini berlanjut melebihi hari pertama latihan,” tambahnya.
Sementara Juru bicara British Dietetic Association Claire Pettitt menyebut kombinasi pembatasan makanan dan olahraga masih merupakan metode penurunan berat badan terbaik dan menyehatkan.
"Saya masih akan merekomendasikan siapa pun yang mencoba untuk menurunkan berat badan dan atau mempertahankan berat badan yang sehat dan gaya hidup harus memperhatikan keduanya, baik dari kebiasaan makan mereka dan tingkat aktivitas fisik,” sebutnya. (les/les)