Menurut rilis resmi di laman WHO, laporan pertama kali datang pada 16 Maret lalu tentang kematian misterius di Koropara, sebuah desa di Guinea. Bukan sekedar kematian yang tak diketahui, keluarga korban juga menunjukkan beberapa gejala yang mirip dengan Ebola.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gejala lanjutan yang muncul adalah mual, diare, yang kemudian diikuti dengan penurunan fungsi hati serta ginjal. Pada beberapa kasus, ebola menyebabkan penderita mengalami perdarahan.
Ebola termasuk penyakit yang berbahaya, sebanyak 20 hingga 90 persen pengidap Ebola dapat meninggal. Kemampuan mematikan dari virus ini menyebabkan Guinea ditetapkan sebagai darurat Ebola pada Maret 2014.
Penyebaran yang masif membuat ebola menjadi perhatian dunia, terutama di sekitar Guinea seperti Liberia dan Sierra Leone. Setidaknya hingga 17 Maret 2016, tercatat Ebola membuat lebih dari 28 ribu orang terinfeksi dan 11 ribu orang kehilangan nyawa.
Desember lalu, Guinea dinyatakan bersih Ebola, namun penyebaran di Sierra Leone masih dalam penanganan. Akan tetapi, saat wabah Ebola Sierra Leone mulai terkendali, virus tersebut kembali muncul di Guinea.
"WHO tetap berusaha menekan penyebaran Ebola di Sierra Leone, sama juga seperti pada Liberia dan Guinea yang masih rentan terjadinya wabah Ebola. Mengingat sulitnya virus hilang dari tubuh korban, kami meminta masyarakat tetap waspada dan segera melapor jika menemukan gejala Ebola," tulis WHO.
Sejauh ini, WHO bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan setempat telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi merebaknya Ebola. WHO mengerahkan berbagai ahli dari epidemolog, vaksinator, penyuluh, hingga antropolog guna mencegah penyebaran. (end/les)