Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam keterangan di Jakarta, Minggu (27/3), menyatakan wisatawan mancanegara mencari keunikan dan kelangkaan tradisi yang bersanding rapi memegang teguh adat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi ini dilakukan Sabtu Kliwon Wuku Uye menurut perhitungan kalender Bali-Jawa, dalam enam bulan sekali.
Kepala Dinas Pariwisata Bali AA Gede Agung Yuniartha mencontohkan sapi sangat membantu manusia, tenaganya untuk bekerja di sawah, susunya untuk kesehatan manusia bahkan kotorannya bermanfaat menyuburkan tanaman.
Sapi, kerbau, kuda, babi, anjing, kucing, ayam, burung, unggas, serta binatang lain akan diikutsertakan salam upacara "Tumpek Kandang" di pura setempat, dipimpin pemuka agama Hindu.
Salah satu tempat upacara ini adalah di "Bali Zoo" di Singapadu, Kabupaten Gianyar. Secara simbolis, satwa dikeluarkan dari penangkaran untuk menjalani tradisi itu.
Pemuka agama setempat menghaturkan sesajen sebagai simbol penghormatan kepada dewa penguasa satwa, yakni Sang Hyang Rare Angon sebagai perwujudan Dewa Siwa, disertai doa-doa memohon keselamatan kepada seluruh satwa.
Budaya Bali yang unik dan wisatawan akan datang walaupun "tumpek kandang" sekadar tradisi terhadap binatang peliharaan namun begitu indah jika diikuti ritualnya, kata Agung.
(sil/sil)