"Orang yang moody seperti bipolar, pemilihan warnanya sulit diprediksi karena dapat berbeda-beda setiap kali pengetesan," kata Dosen dan Praktisi Psikologi Universitas Atma Jaya, Vierra Adella kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Nah orang dengan kondisi seperti ini bagi para ahli lebih mudah mengindentifikasi tanda-tanda mood naik turun melalui terapi warna. Karena mewarnai dapat menangkap sesaat suasana hatinya," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi bipolar disebut juga oleh psikiater sebagai gangguan suasana hati yang kronis dan berat, hingga mengganggu kualitas hidup serta membuat tidak nyaman orang dengan bipolar atau OBD.
Dalam ilmu psikologi, terapi warna ini juga disebut sebagai tes proyeksi yang dapat memberikan gambaran tertentu atas kondisi jiwa seseorang. Dengan kata lain, setiap warna diinterpretasikan sebagai kondisi tertentu sebuah jiwa.
Lihat juga:Buku Mewarnai, Seimbangkan Logika dan Rasa |
"Bukan sebuah tanda yang baik misalkan siang ini menggunakan merah, kuning, biru, kemudian sesaat berikutnya berubah menjadi hitam semua atau dengan warna yang gelap. Dalam psikologi, warna gelap identik dengan kondisi tertekan," ujarnya.
Para psikolog memegang pemahaman bahwa kreatifitas dan seni adalah hal yang otentik. Dengan menguji kreatifitas pada seseorang, psikolog dapat membantu mengeluarkan karakter lain di luar kepribadian yang tampak di keseharian.
(meg)