Makam Raden Saleh dan Jejak Sukarno di Tanah Bangsawan Sunda

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Sabtu, 23/04/2016 19:51 WIB
Makam Raden Saleh dan Jejak Sukarno di Tanah Bangsawan Sunda Makam Raden Saleh (kiri) dan istri, Raden Ayu Danurejo, di Bogor. Presiden Sukarno terbilang sering berziarah ke sini. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Bogor, CNN Indonesia -- Hari ini bertepatan dengan 136 tahun Raden Saleh wafat.  Maestro lukis Indonesia kelahiran 1814 itu tutup usia pada 23 April 1880 dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.

Sebagaimana haul tahun-tahun sebelumnya, hanya acara sederhana digelar. Beberapa seniman dan pengagum Raden Saleh berkumpul sejak pukul 9 pagi untuk tabur bunga dan berdoa, dilanjutkan diskusi ringan di saung kompleks makam.

Letak makam Raden Saleh masuk ke dalam gang, kira-kira 50 meter dari mulut gang di Jalan Pahlawan. Penandanya hanya tulisan kecil penunjuk arah “Makam Rd Saleh”. Itu pun tersembunyi di balik gapura gang. Namun jangan khawatir, sopir angkot tahu sekali tempat ini, tinggal pesankan untuk berhenti di Gang Raden Saleh.


Raden Saleh. (wdl.org via wikimedia (CC-PD-Mark)


Kompleks makam terawat baik, bersih, dengan pohon-pohon berusia muda dan bangku-bangku beton tempat beristirahat. Makam Raden Saleh dan istrinya, Raden Ayu Danurejo, berada paling depan, dengan dinding sebagai pembatas dengan makam lainnya.

Di dinding itu tertulis “Makam Raden Saleh Sjarif Bustaman. Lahir di Semarang kira-kira tahun 1813/1814, wafat di Bogor tanggal 23 April 1880. Dibangun kembali oleh Pemerintah Republik Indonesia tanggal 7 September 1953.”


Baca juga Klasifikasi Bangunan Cagar Budaya


Menariknya, Raden Saleh yang pernah punya puri sangat indah di Cikini (sekarang RS PGI Cikini di Jalan Raden Saleh, Jakarta) yang halamannya demikian luas hingga dijadikan kebun binatang (sekarang jadi Taman Ismail Marzuki), dimakamkan di tanah wakaf orang lain.

Ya, Makam Raden Saleh di Jalan Pahlawan, Gang Radeng Saleh, Kampung Gede, Bogor sebenarnya adalah makam keluarga Raden Panoeripan, seorang bangsawan Sunda.

Raden Saleh bersahabat dengan Raden Panoeripan, sehingga keluarga Raden Panoeripan memberi tempat bagi Raden Saleh dan istri, yang wafat tiga bulan kemudian, untuk dimakamkan di sini. Makam Raden Panoeripan sendiri masih ada, berada tepat di balik makam Raden Saleh dan istri.

Makam Raden Saleh dan istri sempat bertahun-tahun terlupakan dan “hilang”. Hingga pada 1923 ditemukan kembali dalam keadaan tertutup tinggi ilalang.

Makam Raden Saleh di Jalan Pahlawan, Bogor. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)


Mas Adoeng, juru rawat makam saat itu, bahkan tak menyadari di sebelah barat rumahnya terdapat makam orang besar. Setelah dibabat ilalangnya, baru tampak dua makam tersebut. Batu nisan dari marmer pun dibersihkannya.
 
Atas perintah Presiden Sukarno, kompleks makam ini dipugar. Pelaksananya arsitek F. Silaban yang juga merancang Makam Pahlawan Kalibata dan Masjid Istiqlal, Jakarta. Pemugaran rampung pada September 1953.

“Tolong rawat baik-baik,” pesan Bung Karno kepada Mas Adoeng, seperti tertulis di dinding kompleks makam.

Proklamator itu terbilang sering berziarah ke sini. Bersama ajudan, dia singgah dalam perjalanan dari atau ke Istana Batutulis, Bogor. Bung Karno adalah pencinta seni dan pengagum karya-karya Raden Saleh.


Baca juga Arti Bogor bagi Raden Saleh


“Tadinya ada 40 makam di sini. Oleh Bung Karno dibatasi hanya boleh 14, termasuk eyang Raden Saleh dan istri. Sisa jenazah yang lain kemudian dikumpulkan dan dimakamkan jadi satu. Tak boleh ada penambahan lagi,” ujar Isun Sunarya, Juru Pelihara Situs Kompleks Makam Raden Saleh dan keturunan Raden Panoeripan saat dijumpai CNNIndonesia.com di kompleks makam, Sabtu (23/4).

Salah satu keluarga besar Raden Panoeripan yang pagi tadi datang ke acara haul adalah Elly Ibrahim Basalmah. R. Panoeripan adalah eyang buyutnya dari garis ayah. Suami Elly, Ibrahim Basalmah, adalah tokoh seniman lukis Bogor; sedangkan mertuanya, Oemar Basalmah, adalah salah satu perintis seni lukis modern Indonesia.

Rumah masa kecil Elly di depan makam Raden Saleh. Ke pemakaman ini Elly kecil biasa berangin-angin jika udara Bogor terasa panas. Setiap naik kelas, dia nyekar. Kadang ikut mengecat makam bersama juru rawat makam yang dia panggil “Engkong Adoeng”.


Baca juga Langkah Awal Konservasi Rumah Raden Saleh di Cikini


Semasa kecilnya pula Elly menyaksikan pada malam-malam tertentu ada rombongan datang ke makam, membawa tikar dan bermalam. Sekarang, ritual ini sudah tak dia jumpai lagi.

Dari ayahnya, Elly mendapat cerita, Bung Karno selalu mencopot sepatu terlebih dahulu sebelum ke makam Raden Saleh, kemudian menghormat. “Selain peduli pada seni, Bung Karno sangat percaya tradisi,” ujar Elly tentang kebiasaan Bung Karno.

“Dulu, Bapak saya masih menyimpan foto Bung Karno, Bu Fatmawati, dan Bu Megawati masih kecil waktu ke sini. Sekarang tidak tahu lagi di mana foto itu.” (agk)


ARTIKEL TERKAIT