Tak Mau Punya Citra Negatif, Abang None Jadi Guru

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Senin, 02/05/2016 20:08 WIB
Tak Mau Punya Citra Negatif, Abang None Jadi Guru Kegiatan para alumni Abang None menjadi guru inspirasi sehari di SDN 01 Tegal Parang, Jakarta Selatan, Senin, 2 Mei 2016. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duta pariwisata DKI Jakarta, atau yang biasa dikenal sebagai Abang-None, sudah menjadi biasa bila tampil di depan acara pariwisata atau pemerintah DKI Jakarta. Namun kali ini, para alumni Abang-None memutuskan untuk menjadi guru sehari bagi para murid sekolah dasar.

"Abang-None itu sempat dalam satu hingga dua tahun terakhir memiliki citra tidak bermanfaat, menghabiskan anggaran, bahkan saya sempat mendengar ingin dihapus terkait dengan pembenahan anggaran," kata Rizkie Maulana Putra, ketua Ikatan Abang None Jakarta atau IANTA ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com seusai acara ‘Satu Hari Menjadi Inspirasi’ di SDN 01 Tegal Parang Jakarta Selatan, Senin (2/5).

Kendati hanya sehari, kegiatan menjadi guru ini punya makna mendalam bagi para abang-none. Di Hari Pendidikan Nasional, para Abang-None atau Abnon ingin lebih bermanfaat dari sekadar penghias acara Pemprov DKI Jakarta selama ini, seperti among tamu, pembawa acara, dan penari.


Rizkie mengatakan, banyak keahlian dari para Abnon yang belum tertampung secara optimal. Banyak lulusan Abnon adalah pakar di bidang hukum, dokter, pendidik, yang tidak mungkin dibutuhkan saat acara Pariwisata DKI Jakarta. Hingga pada akhirnya, mereka berpencar dan berkontribusi masing-masing.

"Secara protokoler, memang belum ada eksplorasi. Kalau mengandalkan pemerintah untuk inovasi akan lama dan kami tak ingin menunggu," kata Rizkie. "Masyarakat mungkin tahu tentang Abang-None, tapi fungsinya banyak yang tidak tahu.”

Karena belum optimalnya pemberdayaan lebih dari 7000 alumni Abnon sejak 1968 dan citra negatif yang mulai muncul, mereka memutuskan menjadi guru bagi murid-murid sekolah dasar. Pendidikan dasar dipilih karena dianggap masih sangat mungkin membuka pandangan anak-anak dan mendapatkan inspirasi sosok untuk dijadikan pacuan pembelajaran.

IANTA memboyong 12 alumni Abang-None untuk menjadi pengajar siswa SD dalam sehari. Mereka terdiri dari berbagai bidang, seperti insinyur, dokter, wakil kepala sekolah, korporat, hingga pengusaha. Para Abnon yang datang ini mulai dari alumni 1987 hingga 2015.

Para alumni Abang None berharap dengan berinisiatif menjadi guru, citra buruk Abang None bisa diperbaiki. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
"Kami berharap para siswa ini punya rasa percaya diri bahwa sebagai anak Indonesia, mereka punya kemampuan yang tidak kalah di dunia internasional. Selain itu, merka harus sadar bahwa mereka tidaklah sendirian. Dan yang terpenting bahwa mereka haruslah dapat memberikan kontribusi kepada orang lain,” kata Arno Kermaputra, Abang Jakarta Timur 1987, yang menjadi salah satu pengajar dalam sehari itu.

Pemilihan Abang None digelar setiap tahun sejak 1968. Acara ini bertujuan mempromosikan pariwisata dan kebudayaan Betawi. Selain itu, menurut Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 30 Tahun 2010, ajang Abnon berfungsi sebagai sarana remaja Jakarta berperan aktif dalam kegiatan kepariwisataan dan kebudayaan Jakarta.

Dalam Pergub itu juga, tercantum serangkaian kegiatan yang menjadi pemberdayaan para Abnon, seperti protokol gubernur hingga walikota, aktif kegiatan promosi pariwisata dan kebudayaan, kemudian pemberdayaan di bidang sosial, kemanusiaan, serta keagamaan.

“Dilihat dari sudut pandang lain, yaitu sumber daya, Abnon ini punya sumber daya dengan banyak keahlian tapi belum dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat,” kata Rizkie.

"Kami berencana membuat kegiatan ini secara kontinyu per tiga bulan dengan sekolah yang berbeda dan kemudian laporannya akan kami sampaikan kepada pihak yang terkait. Semoga nantinya bisa didukung." (les)