Jika tidak beraksi menggunakan wingsuiter, Naila biasanya menghabiskan waktu dengan melakukan skydiving yaitu salah satu olahraga ekstrim yang mengeluarkan parasut terlebih dahulu sebelum melompat dari pesawat.
Bermula dari perkenalannya dengan olahraga ekstrim ini saat bekerja di sebuah perusahaan peralatan keamanan udara, kini Naila tercatat sebagai atlet kompetisi skydiving sejak enam tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang namanya I believe i can fly itu akhirnya jadi kenyataan," kata Naila kepada CNNIndonesia.com.
Tak hanya berselancar di udara sendiri, atraksi Fourway juga biasa dilakukan oleh Naila Novaranti bersama teman-temannya. (Dok. Naila Novaranti) |
Bicara soal harga, Naila menilai biaya yang biasanya dikeluarkan jika sudah mencandu terbang di ketinggian belasan ribu meter di atas permukaan laut itu terbilang cukup besar. Bayangkan saja, untuk memiliki sebuah parasut yang bisa digunakan, skydiver harus mengeluarkan uang sekitar US$8000 hingga US$15ribu atau setara dengan Rp106 juta hingga Rp199juta.
"Itu hanya parasutnya. Kalau pilih warna biasanya dikenai biaya US$50, atau US$300 untuk pasang tulisan di parasut," kata Naila.
Tak hanya itu, perlengkapan dasar lainnya juga mesti ditebus dengan pecahan dollar. Sebut saja jumpsuit paling basic yang biasanya dibanderol seharga US$450. Belum lagi altimeter, gogles atau helm. "Kalau untuk sepatu tidak ada sepatu khusus," ujarnya.
Bagi mereka yang ingin merasakan sensasi skydiving, Naila mengatakan, harus mendaftarkan diri terlebih dulu ke Federasi Aero & Sport Indonesia (FASI). Jika sudah bergabung, nantinya jadwal latihan akan ditentukan oleh pihak FASI.
"Biayanya sekitar Rp20juta untuk sepuluh kali loncat. Lumayan 50-60 second di atas," kata Naila.
(meg)
Tak hanya berselancar di udara sendiri, atraksi Fourway juga biasa dilakukan oleh Naila Novaranti bersama teman-temannya. (Dok. Naila Novaranti)