Menurutnya, sejauh ini semua baik-baik saja, dalam arti, peserta tak melakukan pelanggaran yang berarti. Sampah dibuang di tempat sampah, tidak mencoret atau menggores dinding di tempat wisata, dan banyak bertanya kepada pemandu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Contohnya, sebelum ke Ende, kami beri tahu kalau di sana ada rumah Bung Karno. Di belakang rumah itu ada sumur. Kalau mandi air sumur itu, bisa awet muda kayak saya," ujar Arya tergelak.
Di luar negeri, aturan yang diterapkan situs-situs bersejarahnya terbilang ketat. Di Angkor Wat, misalnya, calon pengunjung harus menandatangani pernyataan tak akan naik ke tempat-tempat tertentu. Walau tak ada pemandu, mereka mematuhi aturan tersebut.
Di tempat kelahiran Buddha Gautama di Lumbini, Nepal, tas, ponsel, kamera harus dititipkan di locker. Kuncinya dibawa masing-masing pengunjung. Tak ada yang dapat memotret.
Kamera juga terlarang di Nepal dan di Istana Potala di Lhasa, Tibet. Di setiap sudut istana dipasangi kamera CCTV.
"Di Potala, emas berlian dan ada satu gunung," ujar Arya. "Dulu, raja-raja kecil menyumbang pakai emas dan berlian. Tapi ya gitu, tidak ada fotonya, kecuali foto luar istana."
Selain mematuhi aturan yang ditetapkan lokasi wisata, Arya juga punya aturan khusus untuk trip ke tempat-tempat rawan, seperti Kashmir, yakni dilarang keluar hotel jika sudah malam, karena nyawa taruhannya.
Seluruh aturan, tertulis dan lisan, secara tegas dia terapkan ke peserta. Pasalnya, dulu pernah ada kejadian kurang mengenakkan saat Arya membawa rombongan ke Baduy Dalam, Banten.
Sejak malam, rombongan yang bermalam di rumah penduduk itu sudah kasak-kusuk cari akal bisa memotret sebagai "bukti" sudah ke Baduy Dalam, padahal memotret adalah larangan keras di sana. Keesokan paginya, saat mandi di sungai, diam-diam mereka memotret.
Yang terjadi kemudian, dalam perjalanan pulang, bus rombongan ini berputar-putar di gunung, tersasar berjam-jam. Yang seharusnya siang sudah sampai Jakarta, baru malam harinya tiba di Bintaro.
"Padahal saya sering ke Baduy. Saya hafal jalannya. Kok ini bisa sampai tersasar? Pasti karena tadi melanggar aturan," ujar Arya.
Arya Sadhewa. (Dok. Pribadi) |
Pengalaman lain yang dia alami di Baduy Dalam adalah saat membawa rombongan kecil ibu-ibu PNS. Tiba di sana, ternyata Baduy Dalam sedang ditutup untuk orang luar, kecuali hendak "ngelmu" dengan syarat, antara lain, membeli kafan dan bunga.
Setelah membeli benda-benda tersebut, Arya dan rombongan harus terlebih dahulu menemui pu'un (ketua adat tertinggi) di Cikeusik, Pandeglang. Namun karena untuk masuk pun harus antre, mereka menginap dahulu di rumah pu'un yang di dalamnya ada tengkorak.
Sewaktu akhirnya rombongan diizinkan masuk, ibu-ibu PNS ini malah mengurungkan niat. Akhirnya Arya dan dua stafnya yang masuk. Mereka masing-masing pulang membawa "bekal" batu dan keris.
"Celakanya, setelah itu, saya bisa melihat makhluk halus. Bude saya tanya, saya habis dari mana, karena dia lihat ada dua orang berbadan besar mengawal ke mana-mana."
Karena kemampuan baru ini membuatnya tak nyaman, Arya membuang bekal tersebut di sungai. Bukan sembarang sungai, melainkan harus yang bercabang dua. Akhirnya ditemukanlah sungai yang dimaksud, yakni hulu Ciliwung di Puncak, Jawa Barat, yang dia jumpai banyak orang bertapa di sana.
Setelah 13 tahun mengelola perjalanan, Arya mengklaim tripnya zero-accident. Selain wajib mematuhi aturan, dia membatasi jumlah peserta maksimal 15 orang. Andaipun lebih, maka kelompok harus dipecah dua, agar semua terawasi. (sil)
Arya Sadhewa. (Dok. Pribadi)