Rilis Fakta Tembakau dan Permasalahannya di Indonesia yang dikeluarkan oleh Tobacco Control Support Center (TCSC) IAKMI 2016 menunjukkan, posisi rokok dalam pengeluaran harian rumah tangga berada di urutan kedua tertinggi setelah beras.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila dibandingkan, TCSC IAKMI menyatakan biaya yang dihabiskan untuk belanja rokok, terutama oleh rumah tangga miskin, dapat dialokasikan untuk mengonsumsi daging 14 kali. Jumlah tersebut juga setara enam kali pembelian susu dan telur, atau membayar tujuh bulan biaya pendidikan anak.
Dengan kata lain, biaya rokok justru memangkas biaya pendidikan anak di keluarga miskin. Pasalnya, dari data Indeks Pembangunan terbaru, lama sekolah yang dienyam masyarakat Indonesia rata-rata adalah 8,3 tahun.
“Artinya, banyak anak-anak tidak sampai tamat wajib belajar sembilan tahun hingga Sekolah Menengah Pertama karena orangtuanya merokok,” kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek saat memberikan pidato rilis Iklan Layanan Masyarakat Suara Hati Anak di Hotel JW Marriot Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/5).
Dari Iseng Jadi Candu
CNNIndonesia.com mencoba mencari tahu perilaku perokok dan pengaruh iklan rokok terhadap kecenderungan merokok pada masyarakat. Dalam survei independen yang dilakukan secara acak melalui media sosial dari 20 hingga 26 Mei, terungkap bahwa masyarakat bahkan tidak mengetahui alasan untuk merokok.
Sebesar 51,35 persen dari responden menyatakan tidak memiliki alasan khusus setiap kali merokok. Artinya, banyak orang yang tidak tahu mengapa mereka merokok. Sebanyak 13,51 persen mengaku merokok karena stres. Kemudian 16,22 persen merokok karena ada teman, dan 18,92 persen mengaku iseng atau mengisi waktu luang.
Rasa iseng ternyata juga banyak melatari orang untuk merokok. Sebanyak 58,97 persen responden mengaku iseng kemudian ketagihan, adalah faktor utama menjadi perokok. Iseng juga menjadi jawaban dari 57,14 persen responden saat mencoba sebuah rokok baru, baru kemudian faktor iklan mempengaruhi keinginan membeli rokok.
Meski sebanyak 21,43 persen mengatakan iklan rokok terlihat menarik, namun sebesar 78,79 persen mengatakan tak berhasil membuat orang membeli rokok tersebut.
Namun, sebanyak 89,71 persen responden CNNIndonesia.com justru beranggapan bahwa peringatan dari pemerintah tersebut tidak efektif mengurangi minat merokok. Begitu pula dengan larangan terhadap perusahaan rokok untuk beriklan secara terang-terangan. Sebanyak 91,18 persen responden berpendapat larangan itu tidak berdampak dalam menurunkan minat membeli rokok.
Walaupun beragam peringatan dan larangan dinilai banyak orang tidak efektif, tapi sebenarnya 54,05 persen responden CNNIndonesia.com yang sudah mencandu rokok, menyadari bahaya rokok dan menyatakan mencoba untuk berhenti. Sebanyak 16,22 persen mengatakan sadar namun kepalang candu, dan tidak berniat berhenti. Sebanyak 13,51 persen abai akan dampak buruk merokok, dan hanya 2,7 persen yang mengatakan merokok tak berbahaya.