Di Indonesia, Rokok Sudah Jadi Kebutuhan 'Primer'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 31/05/2016 09:01 WIB
Di Indonesia, Rokok Sudah Jadi Kebutuhan 'Primer' Hasil survei menunjukkan bahwa bagi banyak orang Indonesia, rokok lebih penting ketimbang makan. (REUTERS/Lisi Niesner)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika banyak perokok mengatakan bahwa rokok telah menjadi kebutuhan dalam keseharian, pendapat tersebut benar adanya. Dalam beberapa survei yang dilakukan di Indonesia, terlihat bahwa rokok dianggap lebih penting dibanding makanan.

Rilis Fakta Tembakau dan Permasalahannya di Indonesia yang dikeluarkan oleh Tobacco Control Support Center (TCSC) IAKMI 2016 menunjukkan, posisi rokok dalam pengeluaran harian rumah tangga berada di urutan kedua tertinggi setelah beras.

Sementara menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2014 tentang rata-rata pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan, diketahui rata-rata orang menghabiskan Rp439 ribu per kapita per bulan untuk makanan dengan porsi terbesar adalah makanan jadi sebesar Rp142 ribu, dan padi sebesar Rp54 ribu atau 12 persen.


Sedangkan kategori tembakau dan sirih, masyarakat Indonesia ternyata menghabiskan rata-rata Rp50 ribu per kapita per bulan, yang setara dengan 11 persen dari anggaran bulanan.

Bila dibandingkan, TCSC IAKMI menyatakan biaya yang dihabiskan untuk belanja rokok, terutama oleh rumah tangga miskin, dapat dialokasikan untuk mengonsumsi daging 14 kali. Jumlah tersebut juga setara enam kali pembelian susu dan telur, atau membayar tujuh bulan biaya pendidikan anak.

Dengan kata lain, biaya rokok justru memangkas biaya pendidikan anak di keluarga miskin. Pasalnya, dari data Indeks Pembangunan terbaru, lama sekolah yang dienyam masyarakat Indonesia rata-rata adalah 8,3 tahun.

“Artinya, banyak anak-anak tidak sampai tamat wajib belajar sembilan tahun hingga Sekolah Menengah Pertama karena orangtuanya merokok,” kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek saat memberikan pidato rilis Iklan Layanan Masyarakat Suara Hati Anak di Hotel JW Marriot Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/5).

Dari Iseng Jadi Candu

CNNIndonesia.com mencoba mencari tahu perilaku perokok dan pengaruh iklan rokok terhadap kecenderungan merokok pada masyarakat. Dalam survei independen yang dilakukan secara acak melalui media sosial dari 20 hingga 26 Mei, terungkap bahwa masyarakat bahkan tidak mengetahui alasan untuk merokok.

Sebesar 51,35 persen dari responden menyatakan tidak memiliki alasan khusus setiap kali merokok. Artinya, banyak orang yang tidak tahu mengapa mereka merokok. Sebanyak 13,51 persen mengaku merokok karena stres. Kemudian 16,22 persen merokok karena ada teman, dan 18,92 persen mengaku iseng atau mengisi waktu luang.

Rasa iseng ternyata juga banyak melatari orang untuk merokok. Sebanyak 58,97 persen responden mengaku iseng kemudian ketagihan, adalah faktor utama menjadi perokok. Iseng juga menjadi jawaban dari 57,14 persen responden saat mencoba sebuah rokok baru, baru kemudian faktor iklan mempengaruhi keinginan membeli rokok.

Meski sebanyak 21,43 persen mengatakan iklan rokok terlihat menarik, namun sebesar 78,79 persen mengatakan tak berhasil membuat orang membeli rokok tersebut.
Pemerintah telah berupaya melakukan berbagai cara untuk menurunkan jumlah perokok baru dengan memasang peringatan akan bahaya merokok pada bungkus atau iklan rokok. Dalam rilis TCSC AKMI 2016 yang merupakan gabungan penelitian tentang peringatan merokok, tercatat sebesar 47,7 persen dari 1.901 responden menyatakan peringatan kesehatan di bungkus rokok membuat perokok berpikir untuk berhenti merokok.

Namun, sebanyak 89,71 persen responden CNNIndonesia.com justru beranggapan bahwa peringatan dari pemerintah tersebut tidak efektif mengurangi minat merokok. Begitu pula dengan larangan terhadap perusahaan rokok untuk beriklan secara terang-terangan. Sebanyak 91,18 persen responden berpendapat larangan itu tidak berdampak dalam menurunkan minat membeli rokok.

Walaupun beragam peringatan dan larangan dinilai banyak orang tidak efektif, tapi sebenarnya 54,05 persen responden CNNIndonesia.com yang sudah mencandu rokok, menyadari bahaya rokok dan menyatakan mencoba untuk berhenti. Sebanyak 16,22 persen mengatakan sadar namun kepalang candu, dan tidak berniat berhenti. Sebanyak 13,51 persen abai akan dampak buruk merokok, dan hanya 2,7 persen yang mengatakan merokok tak berbahaya.
(les)




ARTIKEL TERKAIT