Namun penelitian yang rilis di jurnal the Marine and Petroleum Geology, para ilmuwan justru menyebut "puing kota yang hilang" tersebut terbentuk dari fenomena geologi alami sejak lima juta tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian para peneliti dari Department of Geology and Geoenvironmental the University of Athens meneliti kandungan mineral dan dan formasi dari puing tersebut.
"Kami menyelidiki situs tersebut antara dua dan lima meter di bawah permukaan laut dan menemukan puing tersebut sebenarnya adalah fenomena geologi alami," kata Andrews.
Menurut dia, puing berbentuk seperti roda kendaraan di dasar laut yang dikira peninggalan peradaban lampau tersebut, aslinya adalah mineralisasi hidrokarbon dari gas alam di bawah dasar laut.
Proses mineralisasi tersebut juga akibat aktivitas bakteri yang menggunakan gas metana alami dasar laut, lalu mengubah ikatan kimia sedimen menjadi keras selayaknya semen bernama concretion. Formasi ini diduga telah terjadi sejak zaman Pliocene dan terbentuk alami berkat gerusan arus air laut.
"Tidak ada aliran khusus di situs ini, yang ada hanyalah seperti yang terjadi di tempat lainnya di dunia," kata Andrews. "Kebocoran gas adalah hal yang lumrah di dasar laut, kerak bumi sangat labil dan memungkinkan itu terjadi. Mereka hampir mirip seperti karang, sehingga justru berfungsi menyediakan banyak tempat untuk ikan hidup."
Dengan temuan bahwa "situs arkeologi" tersebut ternyata adalah fenomena alam pada umumnya, Andrews yakin tidak akan merugikan pariwisata setempat. Menurutnya, orang akan masih datang menikmati keindahan alam dan struktur aneh di dasar laut pulau itu.
[Gambas:Youtube] (les)